my THOUGHTS






SPEAK out

"Everyone has the right to freedom of opinion
and expression; this right includes freedom
to hold opinions without interference and to seek,
receive and impart information and ideas through
any media and regardless of frontiers."

- Article 19,
Universal Declaration of Human Rights

AROUND me
Canon EOS 550D | EOS Rebel T2i
Canon EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS
Canon EF-S 55-250mm f/4-5.6 IS
Adobe Photoshop without effects
Showing posts with label hidup. Show all posts
Showing posts with label hidup. Show all posts

Thursday, November 11, 2010

Saya Tidak Punya Anak !!!

10:10 AM 1/24/2009, ANTz wrote :

Hari menjelang tengah malam ketika kami beranjak meninggalkan kawasan Menteng. Sebuah taksi berwarna putih dengan inisial C menunggu dengan sabar, berharap calon penumpang segera menghampirinya. Tidak ada pilihan lain... hanya taksi C itu saja.

"Kita seperti artis saja ya..." ucap seorang teman.
"Iya..." jawab gue pendek.

"Kita kemana pak ?" sapa pengemudi taksi.
"Ke arah Mampang pak !" gue berkata.
"Maaf, bapak 'halak kita' ya ?" gue segera menambahkannya dengan pertanyaan.
"Iya..." jawabnya datar.
"Hehehe..., wuah sama... kalau gitu kita ngobrolnya nanti saja ya pak, setelah mengantarkan teman ini." kata gue sambil tersenyum.

Entah kenapa setiap kali menggunakan jasa taksi, gue selalu segera berusaha mengidentifikasi pengemudinya. Kalau seorang diri, gue selalu duduk di samping pengemudi. Biasanya melirik tanda identitas yang terletak di dashboard. Dari situ biasanya cukup untuk mengenali siapa orang yang mengemudikan taksi tersebut. Photo, nama dan masa tugas, bagi gue, hanya menjadi bahan untuk memulai perbincangan, bukan untuk tujuan keamanan selama dalam perjalanan. Namun sayangnya dari sekian banyak 'merek' taksi di kota ini hanya segelintir yang tersedia tanda tersebut. Alhasil jurus berikutnya, apabila tanda tersebut tidak ada adalah raut muka & tata bicara sang pengemudi.

Hal tersebut yang gue lakukan saat itu. Karena duduk di belakang pengemudi maka aksennya ketika menyapa pertama kali itulah menjadi identifikasi pertama. "Hmm... 'halak kita' nih..." gumam gue dalam hati sebelum melontarkan pertanyaan diatas kepadanya. Halak kita adakah istilah yang dipergunakan rumpun suku Batak untuk menyebut sesamanya yang se-suku.

Selama perjalanan mengantar teman hingga kawasan Mampang, tidak ada perbincangan dengan bapak pengemudi tersebut. Barulah setelah mengantar teman, gue pindah duduk untuk pindah ke depan, di samping pengemudi. Nyaman... lumayan teman ngobrol selama di jalan :). Maka dimulailah perbincangan kami, awalnya hal-hal biasa saja, seperti tinggal dimana dan marga beliau. Sampai... akh... gue menanyakan hal yang sepertinya wajar namun sangat sensitif baginya.

"Bapak anaknya berapa, sepertinya seusia saya ya ?" gue bertanya.
Dengan rambut yang hampir memutih semua layak bapak sendiri, gue yakin anaknya akan seusia gue. Namun sungguh... sungguh... menakjubkan jawabannya.
"ANAK... TIDAK ADA ANAK !" gumamnya dingin.
Gue tersentak, pandangan gue yang asyik memandang lalu lintas malam, sesaat gue alihkan ke beliau. Matanya menyiratkan kepedihan... Kontur rahangnya menambah kesan itu seperti. Menggeram menahan beban.
"Mungkinkah bapak ini tidak menikah atau tidak dikaruniai anak ?" pertanyaan tersebut berkecamuk di pikiran gue ditambah perasaan bersalah atas pertanyaan tersebut.

"Oooh..." hanya itu yang keluar dari mulut gue.
Sesaat kemudian kami terdiam... hening...
"Narkoba..." lirihnya pelan.
"Akh... benda itu lagi..." gumam gue dalam hati.
"Maap, anak bapak sudah tiada ya ? tanya gue pelan.
"Iya..." lagi-lagi ia berkata lirih.
"Semua salah saya..." agak tercekat suaranya.
"Saya berpikir sudah banting tulang nyari duit seharian, untuk dia. Ternyata itu tidak cukup... saya salah" ujarnya.

idak lagi dingin & datar seperti di awal perbincangan kami. Tidak ada lagi kesan orang Medan yang mempunyai mitos berwatak keras. Semua sirna, yang tertinggal hanya sesosok orangtua yang sakit rindu, menggambarkan kepedihan yang sangat dalam.

Sayang saat itu, mood gue untuk 'menginterogasinya' langsung lenyap. Hal-hal seperti berapa jumlah anaknya, usia almarhum anaknya dan jenis kelamin almarhum anaknya tidak jadi gue tanyakan. Kepedihannya sangat kental terasa menyebabkan gue tidak sampai hati untuk bertanya lebih jauh. Namun dari kesan yang terpancar dari raut mukanya, jelas almarhum anaknya adalah seorang laki-laki dan mungkinkah sekaligus anak tertua ? Sebuah harapan orangtua bagi seorang anak laki-laki untuk meneruskan harapan keluarga.

Selanjutnya perbincangan kami bukanlah dalam bentuk tanya jawab, tapi ke arah membagi pengalaman. Gue berinisiatif mulai membagi sedikit pengalaman ketika bergaul dengan teman-teman pemakai dan beragam alasan mengapa mereka terjerumus ke dunia tersebut. Paling tidak, setelah itu perbincangan mengarah ke arah yang positif. Bapak itu mulai bercerita bagaimana cara dia menyikapi hidup di masa sisa hidupnya.

"Yah... beginilah... Seusia saya masih menyopir taksi tengah malam begini" katanya.
"Benar pak... Jujur ketika saya masuk tadi, ketika saya melihat bapak, saya langsung terikat bapak saya" gue berkata.
"Hebat... kayak bapak begini seharusnya di rumah, apalagi jam segini" gue melanjutkan kalimat yang terputus.
"Yah... Tapi saya harus cari makan. Dan saya masih memiliki seorang anak perempuan" jawabnya.
"Usia berapa pak ?" gue mulai memberanikan diri bertanya.
"Masih SMP..." jawabnya.
Akh... lengkap sudah apa yang dihadapi di sisa hidupnya. Tiada pilihan lain, bapak ini menjadi tiang penghidupan terakhir ketika anak laki-laki harapannya tiada tergerus narkoba. Sejuta asa di dada musnah dihantam gejolak anak muda.

Memasuki kawasan Fatmawati, gue merasa dia seperti orangtua sendiri, yang tak pantas di jalan. Berulang kali memastikan arah jalan kepada gue sebagai penumpang, menandakan ingatannya mulai berkurang. Akhirnya gue memutuskan untuk turun di jalan besar terakhir yang masih bisa diingatnya, itu hanya 5 menit berjalan kaki ke arah rumah. Karena akan menyulitkan baginya masuk ke gang-gang kecil, untuk kembali menemukan jalan utama :)

"Hidup saya sekarang adalah menjadi saksi". Itulah salah satu kalimatnya yang beberapa kali terucap dari bibirnya dan sampai sekarang sulit gue mengerti. Saksi apa dan bagi siapa ?

Yang jelas, hidup selalu menyisakan makna di setiap kedua sisinya; kepedihan dan keriaan. Terlepas mana yang lebih dominan. Setiap manusia memaknai hidupnya menurut apa yang dialaminya dan bagaimana kemudian ia menyikapinya. Dari sana akan terbit serangkaian pesan kehidupan. Uniknya, seringkali orang lain sulit memahaminya, yah... sulit... karena kita tidak mengalaminya ;)

Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan.

with respect,

:> ANTz

read more...

Tuesday, October 12, 2010

Itulah Hidup

9:18 AM 4/19/2009, ANTz wrote :

Pagi ini, gue duduk di depan rumah seorang teman di daerah Pondok Labu. Orangtua teman meninggal Sabtu malam karena sakit tumor ganas. Meninggal merupakan bagian dari siklus kehidupan manusia, selain kelahiran dan pernikahan. Akan ada tawa dan disana pula tangis mengiringinya, bagai 2 sisi mata uang. 

Seminggu yang lalu, tepatnya hari Senin & Selasa, gue sibuk membenahi kamar-kamar yang ada di rumah orangtua. Banyak barang-barang lama yang gue temui, membangkitkan memori masa lalu. Salah satunya buku Chicken Soup for Soul edisi. Wuaaah... asik juga buat sumber inspirasi. Kalau tidak salah, hari Jumat-nya gue baru punya waktu luang untuk mulai membaca. Gue mendapati kesan yang hampir serupa dari berbagai cerita didalamnya. Mulai dari anak terkena Leukimia, veteran Vietnam dengan kruk di kakinya yang menjadi montir mobil, ibu yang menderita kanker payudara, ayah yang kehilangan anak yang masih muda karena kecelakaan, kakek tua penderita jantung, supir taksi yang profesional sampai seorang gadis muda penderita Paranoid Schizofrenia. Dengan ekspresi yang beragam, semua penulis atau pelaku menunjukkan pesan yang sama. Bagaimana manusia menyikapi hidupnya dan memberi arti seberapa pun pendeknya hidup mereka.

Masih dalam minggu ini, gue kebetulan mendengarkan lagu-lagu karya Giving My Best dalam album Stand Out dan Sidney Mohede dengan albumnya Better Days dan Ada Langit Biru. Dari sekian lagu dalam ketiga album tersebut, ada 3 lagu yang akhirnya sering gue dengerin, bahkan saat gue menulis artikel ini. I love it. Lagu itu berjudul Sampai Batas Waktu (Giving My Best), Batas Akhir dan Masih Ada Langit Biru (Sidney Mohede). Padahal awalnya gue agak engga suka karena dari judul dan liriknya mengandung hal-hal mengenai kematian, kesusahan ataupun ketakutan. Hal-hal yang selama 5 tahun terus menghantui diri gue dan menghilangkan semangat, hanya untuk sekedar hidup. Namun hati gue terlanjur menyukainya, mau apa lagi.

...tatkala gelap mencekam hidupku
ku rasa aman dalam-MU
kubawa hatiku
ombak yg menderu
tak membuat galau hatiku
kutahu, kuselalu mengandalkan-MU...


Yaah... selama 5 tahun, gue dihadapkan pada kondisi yang sama seperti pelaku dalam kisah di buku Chicken Soup for Soul ataupun seperti rangkaian lirik dalam ketiga lagu diatas. Seperti mereka, awalnya gue merasa hidup telah habis di usia 25 tahun. Cita-cita & mimpi telah raib seperti debu ditiup hembusan angin, hilang tak berbekas. Dokter & psikolog melakukan beragam diagnosa, kerabat datang silih berganti memberi semangat, segala macam obat dari yang tradisional sampai non tradisional masuk ke perut sampai buku-buku pembangkit semangat didatangkan....tokh gue tidak beranjak dari sedotan lumpur hidup. Alih-alih bangkit malah gue semakin membangun tembok setinggi langit, memutuskan hubungan dengan dunia di sekitar termasuk keluarga sendiri. Hanya untuk menunjukkan konklusi diri gue sendiri bahwa : "I am finished".

Namun layaknya kisah-kisah dalam Chicken Soup for Soul, gue mengalami transformasi yang serupa. Dan itu dimulai dari hal yang sangat sederhana, anak-anak. Selama 2 tahun kehilangan kontrol akan diri gue, di tahun ketiga gue mencoba memulai sebuah usaha yang dekat dengan anak-anak. Tujuannya sederhana sekedar mengisi waktu ditengah keputus-asaan. Amazing....tiga tahun kemudian atau 5 tahun dari titik dimana gue sakit, berbagai jenis hasil dapat dipetik. Dari segi investasi saja, modal dalam bentuk barang bukannya susut malah nilai jualnya naik dan pendapatan yang disimpan dalam bentuk deposito menghasilkan nilai yang lumayan ketika suku bunga naik. Dari 1 tempat yang mulanya iseng-iseng sempat menjadi 2 tempat walau akhirnya yang lama tutup karena kendala pegawai. Dan yang paling penting, diri gue mengalami perubahan yang luar biasa. Gue menjadi sosok yang sangat menghargai uang sampai nilai yang terkecil :), memahami bagaimana menjalankan usaha hingga akhirnya sangat menghargai orang yang berani berusaha secara mandiri, menjadi sabar menghadapi beraneka karakter orang (pengaruh anak-anak neeh), dan yang terpenting mulai ada mimpi-mimpi yang terselip dalam diri gue :), sesuatu yang hilang selama 5 tahun ini.

Ketika membaca kisah-kisah dalam Chicken Soup for Soul, mendengarkan lagu-lagu dari Giving My Best & Sidney Mohede serta mengenang masa-masa suram dalam hidup gue, untuk kemudian mengarahkannya kepada momen dimana gue berada dalam suasana berkabung saat ini... seperti ada gong yang dipukul di dekat telinga... keras sekali. "Itulah Hidup" begitu suaranya terdengar.

Yah... bagaikan pisau bermata dua "Itulah Hidup" membuat diri gue amat tenang sekaligus muram. Tenang karena setelah mengalami saat-saat menyakitkan dalam hidup, gue kini mempunyai visi dan mimpi yang baru. Visi dan mimpi yang sangat sederhana, dimana gue mulai menikmati hidup tanpa harus ngoyo (bahasa Jawa) mencapainya. Mimpi yang akan terus bergulir walaupun gue telah Mencapai Batas Waktu. Visi yang hanya berkata : "Pengaruhi sekitarmu, buat lebih baik". :) Sekarang, gue selalu mencari jenis usaha yang berdasarkan visi ini. Selama 3 tahun gue telah melaluinya dari hal yang kecil yaitu sekitar lingkungan rumah. Dan mulai bulan April 2009, gue memulainya bersama abang gue dalam konteks yang lebih besar. Tidak tahu berhasil atau tidak, tapi sebuah visi haruslah selalu bersama mimpi karena jika itu gagal anggaplah sebagai mimpi belaka, alias tidak stres :)

"Itulah Hidup" mendatangkan sisi muram dalam diri gue. Ketika hari ini gue berbincang-bincang dengan salah satu pelayat, keluar pernyataan tersebut dari bibirnya. "Itulah hidup, hari ini kita sehat... besok bisa meninggal. Ada yang sakit bertahun-tahun tokh tetap tidak meninggal !!!". Sedih rasanya mendengarkan pernyataan yang terkesan datar. Bukannya apa-apa, kalau setiap orang sudah tahu begitulah kenyataan hidup, pertanyaan-nya adalah apa yang telah dilakukan selama hidupmu ???

Apa yang dibenak orang yang ketika memperkaya diri sendiri dengan cara yang tidak benar atau melakukan janji-janji kosong yang tokh akhirnya menyakiti orang lain hanya untuk kekuasaan atau pengaruh. Hampir semua orang  mengharapkan atau mengejar sesuatu dalam hidupnya apakah itu kekuasaan, ketenaran, harta, kepintaran atau eksistensi diri lainnya. Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiran gue : "Apakah semuanya itu akan selamanya melekat dalam diri kita ?". Ketika dari dalam rumah duka tiba-tiba terdengar tangisan keras yang bersahutan... gue sudah menemukan jawabannya. Tidak ada yang kekal. Hanya kenangan yang ditinggalkan entah sampai berapa lama.

Yah... hidup ternyata sederhana apapun kondisinya. Setiap manusia menjalankan rutinitas yang dipilihnya, ketika mereka jenuh, mudah saja untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan hatinya. Dan siklus hidup terus berputar dari mulai membuka mata hingga akhirnya menutup mata. Dimulai dari tertawa senang hingga akhirnya menangis pilu atau seharusnya dimulai dari tangisan si kecil hingga tawa sang tua meninggalkan sakit yang dideritanya...

Gue hanya terpekur, ketika mendung mulai bergayut diatas rumah duka dan pelayat mulai beranjak dari tempat duduknya. Gue tetap duduk sambil melihat ke langit dan meneruskan menulis, entah bagaimana gue percaya hujan baru akan turun ketika gue pulang ke rumah.

...sampai batas akhir nafasku
dan sampai lenyap detak jantungku
kan kuserahkan seluruh hidupku
dan b'ri yang terbaik bagi-MU...


with respect,

:> ANTz

read more...

 

blog RIGHT

This blog powered by:


Professional template designed by Rohman Abdul Manap
Banner header image and blog modified by antha.ginting

Creative Commons License
Based on a work at karput.blogspot.com,
all contents on this site are LICENSED under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License.

Please email to for copy
and distribute for commercial or non-commercial uses.

and also PROTECTED under:
MyFreeCopyright.com Registered & Protected
protected by Copyscape Online Plagiarism Detector
for detail see Disclaimer.

Thank you for visiting my blog, see ya..

my FRIENDS