10:30 AM 02/07/2010, ANTz wrote :
"
Heran ya... Warung tenda itu selalu ramai" ucap pengemudi taksi yang gue tumpangi. Untuk kesekian kalinya, gue mendengar pernyataan yang serupa saat melintasi jalan raya Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
"Hah !" spontan gue bereaksi.
Gue yang sejak memasuki taksi asyik terpekur dalam lamunan, sontak terkesiap.
"Oh itu, yang jual ketupat pak ? Oh... iya, benar tuh pak" gue bertanya sekaligus mengamini pernyataannya.
Yup, warung tenda itu terletak di sebelah kiri jalan raya Mampang Prapatan jika menuju arah Pasar Minggu. Tepat di perempatan, di seberang KFC Mampang. Warung tenda tersebut menempati halaman depan sebuah toko onderdil motor juga trotoar yang ada didepannya, persis layaknya warung tenda lainnya.
Yang gue tahu, berdasarkan cerita pengemudi taksi yang pernah gue tumpangi sebelumnya, warung tenda tersebut biasanya baru buka sekitar pukul 08.00 dan tutup menjelang subuh. Agak berbeda dengan warung tenda lainnya yang biasanya sudah mulai menempati lapaknya menjelang Magrib. Produk makanan yang dijual pun agak berbeda dan tidak lazim dijual pada malam hari, seperti nasi goreng, mie, pecel lele dan lain sebagainya. Ya... warung tenda tersebut menjual ketupat sayur !!! Makanan yang wara-wiri di kala pagi hari dan sangat jarang ditemui saat malam hari.
Ternyata pengemudi taksi di samping gue, telah memperhatikan usaha tersebut sejak awal berdiri. Terbukti dari ceritanya, ia tahu persis bahwa warung tenda tersebut baru berdiri sekitar setahun. Kondisi 2-3 bulan pertama masih sepi namun setelah itu berkembang pesat dan selalu ramai setiap malam, begitulah tuturnya kepada gue.
Selanjutnya, beliau pun fasih bercerita berbagai hal tentang usaha warung tenda. Tidak mengherankan karena dulunya beliau pernah memiliki usaha warung tenda juga. Menjadi jawaban mengapa 'keramaian warung tenda ketupat sayur' tersebut menarik perhatiannya. Mungkin semacam mimpi yang belum sempat terwujud bagi dirinya.
"Iya, saya dulu sebelum mengemudi taksi, pernah mempunyai warung tenda di perempatan Trakindo, Cilandak, mas..." beliau mulai bercerita masa lalunya.
"Yah... karena ada proyek penataan jalan, saya tergusur. Padahal saat itu pengunjung sudah mulai ramai." keluhnya.
"Ketika proyek tersebut selesai, saya mencoba kembali berdagang, keadaan sudah berubah. Hanya beberapa unit usaha saja yang diizinkan... Itu pun biasanya punya bekingan 'korps' tertentu." jelasnya lugas.
"Oooh, begitu..." gue menggumam.
"Lalu mengapa tidak cari tempat lain, pak ?" kejar gue dengan pertanyaan.
"Akh... benar mas... Pengennya begitu... Tapi bagaimana ya ? Duitnya ga ada tho mas..." suaranya mulai terdengar lirih.
"Emang modalnya besar pak ?" gue bertanya.
Tiba-tiba beliau tertawa renyah, menertawai keadaan dirinya.
"Wuaah... ga besar mas, apalagi model saya yang sudah mempunyai modal gerobak & peralatan. Tinggal nerusin aja. Paling sekitar 3-5 jutaan..." jelasnya seraya memaparkan perhitungannya, seperti bahan baku & sewa tempat.
"Lalu, kenapa tidak diteruskan ? gue mengejarnya dengan pertanyaan.
"Haahh... duitnya itu mas... habis tuk bangun rumah & pinjaman. Itu kenapa saya banting setir menjadi seperti ini." jawabnya.
"Oooh... begitu..." ujar gue pendek.
Gue sempat meragukan alasannya, tapi saat itu gue memutuskan untuk tidak
bertanya lebih lanjut.
"Tapi mas, dulu ada penumpang saya yang menawarkan pinjaman tanpa bunga, cuman saya tolak." beliau meneruskan ceritanya.
"Kenapa pak, kok ga diterima ?" tanya gue.
"Orang itu bilang pakai saja uang saya, nanti kamu kembangin. Tidak apa-apa kalau nanti rugi. Tapi andaikan dalam setahun ada kemajuan, buka sekitar 3-4 cabang lagi. Nanti setelah itu baru keuntungannya kita bagi dua. Wuaah... ta' pikir-pikir, kok yang untung dia. Saya yang kerja keras tiap hari, hasilnya dibagi dua. Dia ga kerja apa-apa, cuma modal 3-5 juta saja, paling kalau rugi tokh sekitar segitu. Kalau 20 jutaan mungkin lain ceritanya." dia memaparkannya dengan lugas.
"Sudah itu setiap hari bawaan kita khawatir mas... Yang namanya duit orang kan, takut kenapa-kenapa. Bagi saya lebih baik dipinjemin dengan bunga, tidak apa-apa. Jadi tidak ada beban dan hutang budi. Tapi kan... mana ada yang kasih pinjaman tanpa jaminan..." lanjutnya.
Gue menanggapinya dengan senyum tipis di bibir.
"Sampai sekarang orangnya masih sering nanya lho, mas..." dia langsung menambahkan.
"Dia orang kantoran ya ?" gue bertanya.
"Iya mas... kantornya di daerah Darmawangsa." jawabnya.
Akhirnya gue mulai bercerita tentang pengalaman gue, baik ketika bekerja sebagai karyawan dan ketika gue merintis usaha. Gue menggambarkan kepadanya bahwa dewasa ini ada tren, orang-orang yang bekerja di kantor ingin memiliki usaha sampingan. Mereka terobsesi oleh penghasilan tambahan tanpa perlu menceburkan diri mengurus usaha. Alhasil modal dalam bentuk uanglah yang digelontorkan, dalam bahasa kerennya 'investasi'. Perhitungannya adalah pendapatan dua buah 'keran', baik itu dari penghasilannya sebagai karyawan ditambah dari usaha sampingannya.
Dan akhirnya kami harus mengakhiri obrolan malam itu...
"Semoga kita bertemu lagi ya, mas..." ujarnya saat gue turun dari taksinya.
"Iya pak... terimakasih ya !" gue berkata.
"Sama-sama mas..." balasnya.
"Usahain duitnya sendiri yaa.. pak !!!" gue setengah berseru sebelum menutup pintu taksinya.
Hufttt... hanya diperlukan 3-5 juta rupiah untuk meneruskan sejumput mimpi di tingkat akar rumput. Sedangkan di luar sana, milyaran hingga trilyunan uang rakyat menguap DENGAN JELAS, hahahaa.... Seandainya negara ini berbaik hati, menyisihkan 1 milyar saja untuk kemudian memecahnya menjadi pinjaman-pinjaman berbunga rendah dengan syarat jaminan minimal, senilai nominal 3, 5 dan 10 juta rupiah untuk kemudian mendistribusikan ke akar rumput MAKA dapat dihasilkan sekitar 100-300 usaha baru. Dimana setiap usaha bisa menyerap 2-5 tenaga kerja. TAPI sayang semua itu hanya 'seandainya', sulit terwujud di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Paling tidak di negara yang bernama Bangladesh, terdapat bank yang melakukan hal seperti itu. Alhasil sang pendirinya diganjar sebuah Nobel, bukti nyata bagi sebuah pengandaian. Bukti nyata yang para pemimpin negeri ini selalu berkata : TIDAK MUNGKIN !!!
with respect,
:> ANTz
read more...
summary only...
10:10 AM 1/24/2009, ANTz wrote :
Hari menjelang tengah malam ketika kami beranjak meninggalkan kawasan Menteng. Sebuah taksi berwarna putih dengan inisial C menunggu dengan sabar, berharap calon penumpang segera menghampirinya. Tidak ada pilihan lain... hanya taksi C itu saja.
"Kita seperti artis saja ya..." ucap seorang teman.
"Iya..." jawab gue pendek.
"Kita kemana pak ?" sapa pengemudi taksi.
"Ke arah Mampang pak !" gue berkata.
"Maaf, bapak 'halak kita' ya ?" gue segera menambahkannya dengan pertanyaan.
"Iya..." jawabnya datar.
"Hehehe..., wuah sama... kalau gitu kita ngobrolnya nanti saja ya pak, setelah mengantarkan teman ini." kata gue sambil tersenyum.
Entah kenapa setiap kali menggunakan jasa taksi, gue selalu segera berusaha mengidentifikasi pengemudinya. Kalau seorang diri, gue selalu duduk di samping pengemudi. Biasanya melirik tanda identitas yang terletak di dashboard. Dari situ biasanya cukup untuk mengenali siapa orang yang mengemudikan taksi tersebut. Photo, nama dan masa tugas, bagi gue, hanya menjadi bahan untuk memulai perbincangan, bukan untuk tujuan keamanan selama dalam perjalanan. Namun sayangnya dari sekian banyak 'merek' taksi di kota ini hanya segelintir yang tersedia tanda tersebut. Alhasil jurus berikutnya, apabila tanda tersebut tidak ada adalah raut muka & tata bicara sang pengemudi.
Hal tersebut yang gue lakukan saat itu. Karena duduk di belakang pengemudi maka aksennya ketika menyapa pertama kali itulah menjadi identifikasi pertama. "Hmm... 'halak kita' nih..." gumam gue dalam hati sebelum melontarkan pertanyaan diatas kepadanya. Halak kita adakah istilah yang dipergunakan rumpun suku Batak untuk menyebut sesamanya yang se-suku.
Selama perjalanan mengantar teman hingga kawasan Mampang, tidak ada perbincangan dengan bapak pengemudi tersebut. Barulah setelah mengantar teman, gue pindah duduk untuk pindah ke depan, di samping pengemudi. Nyaman... lumayan teman ngobrol selama di jalan :). Maka dimulailah perbincangan kami, awalnya hal-hal biasa saja, seperti tinggal dimana dan marga beliau. Sampai... akh... gue menanyakan hal yang sepertinya wajar namun sangat sensitif baginya.
"Bapak anaknya berapa, sepertinya seusia saya ya ?" gue bertanya.
Dengan rambut yang hampir memutih semua layak bapak sendiri, gue yakin anaknya akan seusia gue. Namun sungguh... sungguh... menakjubkan jawabannya.
"ANAK... TIDAK ADA ANAK !" gumamnya dingin.
Gue tersentak, pandangan gue yang asyik memandang lalu lintas malam, sesaat gue alihkan ke beliau. Matanya menyiratkan kepedihan... Kontur rahangnya menambah kesan itu seperti. Menggeram menahan beban.
"Mungkinkah bapak ini tidak menikah atau tidak dikaruniai anak ?" pertanyaan tersebut berkecamuk di pikiran gue ditambah perasaan bersalah atas pertanyaan tersebut.
"Oooh..." hanya itu yang keluar dari mulut gue.
Sesaat kemudian kami terdiam... hening...
"Narkoba..." lirihnya pelan.
"Akh... benda itu lagi..." gumam gue dalam hati.
"Maap, anak bapak sudah tiada ya ? tanya gue pelan.
"Iya..." lagi-lagi ia berkata lirih.
"Semua salah saya..." agak tercekat suaranya.
"Saya berpikir sudah banting tulang nyari duit seharian, untuk dia. Ternyata itu tidak cukup... saya salah" ujarnya.
idak lagi dingin & datar seperti di awal perbincangan kami. Tidak ada lagi kesan orang Medan yang mempunyai mitos berwatak keras. Semua sirna, yang tertinggal hanya sesosok orangtua yang sakit rindu, menggambarkan kepedihan yang sangat dalam.
Sayang saat itu, mood gue untuk 'menginterogasinya' langsung lenyap. Hal-hal seperti berapa jumlah anaknya, usia almarhum anaknya dan jenis kelamin almarhum anaknya tidak jadi gue tanyakan. Kepedihannya sangat kental terasa menyebabkan gue tidak sampai hati untuk bertanya lebih jauh. Namun dari kesan yang terpancar dari raut mukanya, jelas almarhum anaknya adalah seorang laki-laki dan mungkinkah sekaligus anak tertua ? Sebuah harapan orangtua bagi seorang anak laki-laki untuk meneruskan harapan keluarga.
Selanjutnya perbincangan kami bukanlah dalam bentuk tanya jawab, tapi ke arah membagi pengalaman. Gue berinisiatif mulai membagi sedikit pengalaman ketika bergaul dengan teman-teman pemakai dan beragam alasan mengapa mereka terjerumus ke dunia tersebut. Paling tidak, setelah itu perbincangan mengarah ke arah yang positif. Bapak itu mulai bercerita bagaimana cara dia menyikapi hidup di masa sisa hidupnya.
"Yah... beginilah... Seusia saya masih menyopir taksi tengah malam begini" katanya.
"Benar pak... Jujur ketika saya masuk tadi, ketika saya melihat bapak, saya langsung terikat bapak saya" gue berkata.
"Hebat... kayak bapak begini seharusnya di rumah, apalagi jam segini" gue melanjutkan kalimat yang terputus.
"Yah... Tapi saya harus cari makan. Dan saya masih memiliki seorang anak perempuan" jawabnya.
"Usia berapa pak ?" gue mulai memberanikan diri bertanya.
"Masih SMP..." jawabnya.
Akh... lengkap sudah apa yang dihadapi di sisa hidupnya. Tiada pilihan lain, bapak ini menjadi tiang penghidupan terakhir ketika anak laki-laki harapannya tiada tergerus narkoba. Sejuta asa di dada musnah dihantam gejolak anak muda.
Memasuki kawasan Fatmawati, gue merasa dia seperti orangtua sendiri, yang tak pantas di jalan. Berulang kali memastikan arah jalan kepada gue sebagai penumpang, menandakan ingatannya mulai berkurang. Akhirnya gue memutuskan untuk turun di jalan besar terakhir yang masih bisa diingatnya, itu hanya 5 menit berjalan kaki ke arah rumah. Karena akan menyulitkan baginya masuk ke gang-gang kecil, untuk kembali menemukan jalan utama :)
"Hidup saya sekarang adalah menjadi saksi". Itulah salah satu kalimatnya yang beberapa kali terucap dari bibirnya dan sampai sekarang sulit gue mengerti. Saksi apa dan bagi siapa ?
Yang jelas, hidup selalu menyisakan makna di setiap kedua sisinya; kepedihan dan keriaan. Terlepas mana yang lebih dominan. Setiap manusia memaknai hidupnya menurut apa yang dialaminya dan bagaimana kemudian ia menyikapinya. Dari sana akan terbit serangkaian pesan kehidupan. Uniknya, seringkali orang lain sulit memahaminya, yah... sulit... karena kita tidak mengalaminya ;)
Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan.
with respect,
:> ANTz
read more...
summary only...