my THOUGHTS






SPEAK out

"Everyone has the right to freedom of opinion
and expression; this right includes freedom
to hold opinions without interference and to seek,
receive and impart information and ideas through
any media and regardless of frontiers."

- Article 19,
Universal Declaration of Human Rights

AROUND me
Canon EOS 550D | EOS Rebel T2i
Canon EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS
Canon EF-S 55-250mm f/4-5.6 IS
Adobe Photoshop without effects
Showing posts with label investasi. Show all posts
Showing posts with label investasi. Show all posts

Wednesday, January 12, 2011

Sekitar 3-5 Juta Rupiah Saja

10:30 AM 02/07/2010, ANTz wrote :

"Heran ya... Warung tenda itu selalu ramai" ucap pengemudi taksi yang gue tumpangi. Untuk kesekian kalinya, gue mendengar pernyataan yang serupa saat melintasi jalan raya Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

"Hah !" spontan gue bereaksi.
Gue yang sejak memasuki taksi asyik terpekur dalam lamunan, sontak terkesiap.
"Oh itu, yang jual ketupat pak ? Oh... iya, benar tuh pak" gue bertanya sekaligus mengamini pernyataannya.

Yup, warung tenda itu terletak di sebelah kiri jalan raya Mampang Prapatan jika menuju arah Pasar Minggu. Tepat di perempatan, di seberang KFC Mampang. Warung tenda tersebut menempati halaman depan sebuah toko onderdil motor juga trotoar yang ada didepannya, persis layaknya warung tenda lainnya.

Yang gue tahu, berdasarkan cerita pengemudi taksi yang pernah gue tumpangi sebelumnya, warung tenda tersebut biasanya baru buka sekitar pukul 08.00 dan tutup menjelang subuh. Agak berbeda dengan warung tenda lainnya yang biasanya sudah mulai menempati lapaknya menjelang Magrib. Produk makanan yang dijual pun agak berbeda dan tidak lazim dijual pada malam hari, seperti nasi goreng, mie, pecel lele dan lain sebagainya. Ya... warung tenda tersebut menjual ketupat sayur !!! Makanan yang wara-wiri di kala pagi hari dan sangat jarang ditemui saat malam hari.

Ternyata pengemudi taksi di samping gue, telah memperhatikan usaha tersebut sejak awal berdiri. Terbukti dari ceritanya, ia tahu persis bahwa warung tenda tersebut baru berdiri sekitar setahun. Kondisi 2-3 bulan pertama masih sepi namun setelah itu berkembang pesat dan selalu ramai setiap malam, begitulah tuturnya kepada gue.

Selanjutnya, beliau pun fasih bercerita berbagai hal tentang usaha warung tenda. Tidak mengherankan karena dulunya beliau pernah memiliki usaha warung tenda juga. Menjadi jawaban mengapa 'keramaian warung tenda ketupat sayur' tersebut menarik perhatiannya. Mungkin semacam mimpi yang belum sempat terwujud bagi dirinya.

"Iya, saya dulu sebelum mengemudi taksi, pernah mempunyai warung tenda di perempatan Trakindo, Cilandak, mas..." beliau mulai bercerita masa lalunya.
"Yah... karena ada proyek penataan jalan, saya tergusur. Padahal saat itu pengunjung sudah mulai ramai." keluhnya.
"Ketika proyek tersebut selesai, saya mencoba kembali berdagang, keadaan sudah berubah. Hanya beberapa unit usaha saja yang diizinkan... Itu pun biasanya punya bekingan 'korps' tertentu." jelasnya lugas.

"Oooh, begitu..." gue menggumam.
"Lalu mengapa tidak cari tempat lain, pak ?" kejar gue dengan pertanyaan.
"Akh... benar mas... Pengennya begitu... Tapi bagaimana ya ? Duitnya ga ada tho mas..." suaranya mulai terdengar lirih.
"Emang modalnya besar pak ?" gue bertanya.
Tiba-tiba beliau tertawa renyah, menertawai keadaan dirinya.
"Wuaah... ga besar mas, apalagi model saya yang sudah mempunyai modal gerobak & peralatan. Tinggal nerusin aja. Paling sekitar 3-5 jutaan..." jelasnya seraya memaparkan perhitungannya, seperti bahan baku & sewa tempat.
"Lalu, kenapa tidak diteruskan ? gue mengejarnya dengan pertanyaan.
"Haahh... duitnya itu mas... habis tuk bangun rumah & pinjaman. Itu kenapa saya banting setir menjadi seperti ini." jawabnya.
"Oooh... begitu..." ujar gue pendek.
Gue sempat meragukan alasannya, tapi saat itu gue memutuskan untuk tidak
bertanya lebih lanjut.

"Tapi mas, dulu ada penumpang saya yang menawarkan pinjaman tanpa bunga, cuman saya tolak." beliau meneruskan ceritanya.
"Kenapa pak, kok ga diterima ?" tanya gue.
"Orang itu bilang pakai saja uang saya, nanti kamu kembangin. Tidak apa-apa kalau nanti rugi. Tapi andaikan dalam setahun ada kemajuan, buka sekitar 3-4 cabang lagi. Nanti setelah itu baru keuntungannya kita bagi dua. Wuaah... ta' pikir-pikir, kok yang untung dia. Saya yang kerja keras tiap hari, hasilnya dibagi dua. Dia ga kerja apa-apa, cuma modal 3-5 juta saja, paling kalau rugi tokh sekitar segitu. Kalau 20 jutaan mungkin lain ceritanya." dia memaparkannya dengan lugas.
"Sudah itu setiap hari bawaan kita khawatir mas... Yang namanya duit orang kan, takut kenapa-kenapa. Bagi saya lebih baik dipinjemin dengan bunga, tidak apa-apa. Jadi tidak ada beban dan hutang budi. Tapi kan... mana ada yang kasih pinjaman tanpa jaminan..." lanjutnya.
Gue menanggapinya dengan senyum tipis di bibir.
"Sampai sekarang orangnya masih sering nanya lho, mas..." dia langsung menambahkan.
"Dia orang kantoran ya ?" gue bertanya.
"Iya mas... kantornya di daerah Darmawangsa." jawabnya.

Akhirnya gue mulai bercerita tentang pengalaman gue, baik ketika bekerja sebagai karyawan dan ketika gue merintis usaha. Gue menggambarkan kepadanya bahwa dewasa ini ada tren, orang-orang yang bekerja di kantor ingin memiliki usaha sampingan. Mereka terobsesi oleh penghasilan tambahan tanpa perlu menceburkan diri mengurus usaha. Alhasil modal dalam bentuk uanglah yang digelontorkan, dalam bahasa kerennya 'investasi'. Perhitungannya adalah pendapatan dua buah 'keran', baik itu dari penghasilannya sebagai karyawan ditambah dari usaha sampingannya.

Dan akhirnya kami harus mengakhiri obrolan malam itu...
"Semoga kita bertemu lagi ya, mas..." ujarnya saat gue turun dari taksinya.
"Iya pak... terimakasih ya !" gue berkata.
"Sama-sama mas..." balasnya.
"Usahain duitnya sendiri yaa.. pak !!!" gue setengah berseru sebelum menutup pintu taksinya.

Hufttt... hanya diperlukan 3-5 juta rupiah untuk meneruskan sejumput mimpi di tingkat akar rumput. Sedangkan di luar sana, milyaran hingga trilyunan uang rakyat menguap DENGAN JELAS, hahahaa.... Seandainya negara ini berbaik hati, menyisihkan 1 milyar saja untuk kemudian memecahnya menjadi pinjaman-pinjaman berbunga rendah dengan syarat jaminan minimal, senilai nominal 3, 5 dan 10 juta rupiah untuk kemudian mendistribusikan ke akar rumput MAKA dapat dihasilkan sekitar 100-300 usaha baru. Dimana setiap usaha bisa menyerap 2-5 tenaga kerja. TAPI sayang semua itu hanya 'seandainya', sulit terwujud di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Paling tidak di negara yang bernama Bangladesh, terdapat bank yang melakukan hal seperti itu. Alhasil sang pendirinya diganjar sebuah Nobel, bukti nyata bagi sebuah pengandaian. Bukti nyata yang para pemimpin negeri ini selalu berkata : TIDAK MUNGKIN !!!


with respect,

:> ANTz

read more...

Tuesday, October 05, 2010

Siapa Rekan Usaha Anda ?

10:12 AM 3/9/2009, ANTz wrote :

Kadang-kadang agak menggelikan jika mencermati hal ini. Setelah mengalami sakit selama 2 tahun, gue mencoba memulai usaha. Awalnya sekadar untuk membuat diri sendiri mempunyai kegiatan, hanya itu. Di keluarga, gue adalah anak terakhir dari 3 bersaudara yang kesemuanya adalah laki-laki. Dengan modal dari abang tertua, gue mulai mencoba menjalani usaha tersebut. Dengan alasan tersebut di atas, tidak ada perjanjian tertulis tentang uang, terutama pembagian keuntungan. Hanya dengan Gentleman Agreement antara saudara, kami mendasari usaha tersebut. Perjanjiannya sendiri agak sederhana, bahwa semua uang yang dihasilkan tidak boleh ada yang diambil untuk kepentingan pribadi. Sampai saat ini belum ada istilah pembagian saham atau dividen apapun. Bahkan gue sendiri tidak mengambil gaji dari hasil tersebut. Aneh memang, namun kondisi dimana gue masih tinggal bersama orangtua dan belum berkeluarga dapat mewujudkan hal tersebut. Mengenai pengeluaran pribadi lain seperti komunikasi dan refreshing, bisa gue minimalisasi karena kebetulan gue tidak memanfaatkan HP dan hampir tidak pernah keluyuran yang sifatnya wasting money. Sedangkan abang gue, mempunyai pekerjaan tetap sehingga dia pun tidak mengambil uang dari pemasukan yang ada. Pemasukan hanya dikeluarkan untuk kepentingan usaha, seperti biaya sewa tempat, listrik, perbaikan dan belakangan untuk membayar seorang pegawai.

Untuk pembagian pun sederhana, saya yang mengelola keseharian dan apabila memerlukan barang, setiap akhir pekan kami mencarinya bersama-sama. Hampir 3 tahun, kami mengelola usaha kecil ini. Selama kurun waktu itu, selain pemasukan dari segi uang, juga dapat menambah dengan beberapa unit alat. Selain itu sempat membuka tempat baru, walaupun tidak lama karena kendala pegawai.

Baru-baru ini abang gue yang lain, menawarkan merintis usaha. Kondisi dia saat ini, sama seperti abang yang tertua : sudah mempunyai pekerjaan tetap. Jadi gue yang diharapkan mengelola usaha yang baru ini. Gue kembali menyanggupinya. Permasalahan kecil muncul ketika gue menanyakan soal dana investasi. Tidak seperti yang pertama dimana gue tinggal mengelola saja dengan dana yang sudah tersedia. Dengan berterus terang gue menjelaskan bahwa gue tidak mempunyai sepeser pun uang dan tidak mempunyai pemasukan apapun. Memang ada, namun itu adalah semacam dana abadi yang tidak bisa diganggu gugat. Gue tidak akan mengambil bagian karena sudah menjadi bagian dari Gentleman Agreement yang tidak tertulis. Dan dana itu akan diproyeksikan agar dapat menghasilkan sendiri tanpa harus dikelola, dalam artian investasi mandiri.

Ketika abang gue ini bertanya dalam bentuk apa gue akan menerima keuntungan, gue hanya menawarkan keuntungan jangka panjang sama seperti usaha yang telah gue rintis. Hitungan gue amat sederhana, mengapa tidak menekan pengeluaran yang bersifat mubazir, jika dalam kurun waktu 3-5 tahun, beberapa usaha yang dirintis telah berkembang menjadi pohon-pohon yang menghasilkan buah ? Selain itu sesungguhnya secara tidak langsung menyatakan bahwa gue ingin mempunyai sebuah usaha keluarga yang kuat.

Pagi ini, secara jernih akhirnya gue belajar bahwa dalam satu keluarga yang sedarah sekalipun tidak menjamin kesamaan karakter dalam menjalani sebuah usaha. Dan dari kesimpulan itu gue mencoba memilahkan karakter apa saja yang menjadi rekan usaha kita.

1. Investor Character
Abang gue yang tertua mempunyai karakter tersebut. Selama bekerja sama dengan dia, gue mengidentifikasi ciri khas yang melekat pada dirinya yaitu seorang investor kebanyakan meluangkan banyak dananya dibandingkan waktunya. Selama usaha yang dijalankan masih mendatangkan keuntungan dari kacamatanya maka pengelola tidak akan banyak berinteraksi dengannya. Seorang investor sejati selain siap mengambil resiko dalam level yang tinggi juga biasanya mempunyai banyak stok rencana investasi (yang diwujudkan dalam jenis usaha). Walaupun dalam aktualnya, dari sekian banyak rencana-rencana tersebut paling hanya 1-
2 saja yang mempunyai endurance kesuksesan yang lumayan panjang. Tokh, kalaupun ada yang gagal atau usaha telah mencapai Break Event POint maka sang investor telah menyiapkan jenis investasi atau usaha baru sesuai kondisi yang dikuasainya.

2. Dominant Character
Abang gue berikutnya merepresentasikan karakter ini. Walaupun baru beberap bulan merencanakan usaha, gue mendapati bahwa ciri khas yang menonjol adalah kemauan yang keras untuk meluangkan waktunya mengurusi seluruh persiapan usaha, mulai dari konsep hingga running process. Rekan usaha seperti ini akan terlebih dahulu menghitung secara cermat peluang usaha yang ada dari dua hal pemasukan dan pengeluaran sebelum melakukan sebuah usaha. Resiko sekecil apapun akan sangat diperhitungkan agar kerugian yang dicapai tidak terlalu besar. Aspek spekulasi akan berada di titik yang rendah pada karakter yang seperti ini. Ke depan, gue melihat karakter yang seperti akan setia dalam satu jenis usaha dan melakukan ekspansi masih dalam jenis usaha yang sama (turunannya), tanpa berencana melakukan diversifikasi.

3. Passive Character
Karakter ini ditemukan dalam diri teman-teman gue. Mungkin karena posisi gue yang sedikit berpengalaman dalam merintis usaha menyebabkan karakter ini jelas terlihat. Teman-teman secara tidak langsung menempatkan diri mereka sendiri dalam posisi yang pasif. Walau usaha yang dirintis hanya dengan modal mengeksploitasi kemampuan atau bakat mereka namun pengalaman menempatkannya dalam posisi tersebut. Minimnya upaya dalam dalam hal visi, dana dan pengalaman menjadi kendala menjalin kerjasama dalam sebuah usaha. Sisi baik yang diperoleh adalah tidak ada intervensi berlebihan dalam meletakkan visi usaha sehingga leluasa mengatur porsi tugas yang menjadi tanggungjawab masing-masing.

4. Balanced Character
Karakter ini sesungguhnya menjadi tipe ideal kerjasama dalam sebuah usaha. Gue sendiri sampai sekarang kesulitan menemukan rekan usaha seperti ini. Faktornya sederhana yaitu kesamaan visi. Kesamaan visi akan mengejawantahkan dirinya menjadi beberapa titik penting dalam usaha, seperti jenis usaha, sumber dana, ketersediaan waktu, metode usaha dan lain sebagainya. Di setiap titik ini nantinya akan tercipta, apa yang gue sebut sebagai balanced effort. Sederhananya ada upaya alami (tanggung jawab) dari setiap orang yang terlibat dalam usaha tersebut alias bahasa antiknya tanggung renteng. Jenis usaha yang digeluti biasanya atas dasar kemampuan atau hobby yang ditekuni.

Anehnya dari sekian karakter yang telah dicoba untuk diidentifikasi, ada keraguan dimana sesungguhnya karakter gue berada. Mungkin, beberapa kondisi yang berbeda menyebabkan gue memerankan karakter yang berbeda pula. Atau bisa saja dicantumkan sebagai adaptive / opportunist character :). Namun, secara pribadi gue tidak merekomendasikan karakter seperti itu karena terlalu sulit untuk mengenali dimana kelebihan dan kekurangannya yang berakibat kita tidak tahu apa yang layak diperoleh dari rekan usaha seperti itu. Penting atau tidaknya tulisan dikembalikan kepada yang pembaca. Tidak ada satu pun teori yang gue ambil dari buku teks manapun. Pengalaman yang dialami, itu yang gue tulis. Tidak lebih.

with respect,

:> ANTz

read more...

 

blog RIGHT

This blog powered by:


Professional template designed by Rohman Abdul Manap
Banner header image and blog modified by antha.ginting

Creative Commons License
Based on a work at karput.blogspot.com,
all contents on this site are LICENSED under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License.

Please email to for copy
and distribute for commercial or non-commercial uses.

and also PROTECTED under:
MyFreeCopyright.com Registered & Protected
protected by Copyscape Online Plagiarism Detector
for detail see Disclaimer.

Thank you for visiting my blog, see ya..

my FRIENDS