my THOUGHTS






SPEAK out

"Everyone has the right to freedom of opinion
and expression; this right includes freedom
to hold opinions without interference and to seek,
receive and impart information and ideas through
any media and regardless of frontiers."

- Article 19,
Universal Declaration of Human Rights

AROUND me
Canon EOS 550D | EOS Rebel T2i
Canon EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS
Canon EF-S 55-250mm f/4-5.6 IS
Adobe Photoshop without effects

Thursday, November 25, 2010

ber-Internet secara Sehat untuk sesuatu yang Hebat

10:29 AM 24/11/2010, ANTz wrote :

Seingat saya hari Kamis, tanggal 18 November 2010, ketika saya dijemput seorang teman untuk 'menjenguk' komputer yang lagi rusak di daerah Cilandak. Hari menjelang sore ketika saya sampai di tempat tersebut. Dengan ramah seorang bapak menyambut saya. Setelah diceritakan kronologisnya bagaimana komputer tersebut bisa ngadat, mulailah saya meng-observasi komputer tersebut.

Satu komputer dengan sistem operasi Windows XP 'hang' ketika akan login dan saat akan diformat selalu menolak dengan tampilan 'blue screen'. Komputer yang satu dengan sistem operasi Windows Vista masih beroperasi, namun sayang berjalan sangat lambat. Setelah di-scan dengan antivirus Smadav (asli buatan dalam negeri) yang terpasang di komputer tersebut, ter-identifikasi 4 virus yang resident di komputer tersebut. Ternyata selain antivirus tersebut, sudah terpasang aplikasi Deep Freeze dan AVG Anti-Virus (bawaan dari Windows Vista). Lagi-lagi, seperti komputer sebelumnya, ketika akan diformat ulang, komputer ini pun mengeluarkan tampilan 'blue screen'.


Kemudian dari cerita bapak tersebut ternyata kedua komputer yang diperlengkapi internet tersebut memang diperuntukkan untuk kepentingan umum. Maksudnya setiap orang bisa bebas mempergunakannya asal bertanggungjawab. Masalah mau mendownload, menginstall aplikasi atau memindahkan data dari luar ke komputer tersebut juga tidak dilarang. Mungkin karena percaya dengan serangkaian aplikasi pengaman yang sudah terpasang di komputer tersebut. Namun faktanya virus sanggup masuk ke dalam komputer tersebut.

Nah... kalau seperti ini kondisinya, bukan saatnya mengandalkan aplikasi saja. Tetapi ada hal-hal lain yang harus dipahami pengguna komputer terutama yang terkoneksi dengan internet. Apalagi dewasa ini kejahatan dunia maya semakin canggih, bukan sekedar membuat virus lantas menyebarkannya atau menghack situs tertentu sebagai eksistensi belaka. Lebih dari itu, sudah mengarah kepada mencari keuntungan secara materi. Dari sinilah saya tergelitik untuk mengumpulkan hal-hal kecil yang mungkin terlewat oleh pengguna dalam berinteraksi di dunia maya namun menjadi celah yang sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Hal-hal tersebut kemudian saya kelompokkan menjadi 2 bagian penting saat kita melakukan aktifitas di dunia maya.

A. Sistem Pengaman
Yang dimaksud sistem pengaman adalah segala perangkat baik hardware maupun software yang melindungi sistem komputer dalam menjelajahi dunia maya. Sistem pengaman yang tangguh paling tidak menjadi modal yang baik, terutama bagi pengguna yang masih awam dalam ber-internet. Berikut hal-hal yang yang perlu diperhatikan dalam sebuah sistem pengaman :
  • Antivirus. Sebuah antivirus akan memproteksi sistem komputer, aplikasi ini akan mencari dan menghapus virus dari hard disk. Namun kelemahan dari aplikasi ini adalah anda harus rajin melakukan update. Tujuannya untuk menjaga definisi virus yang terdapat dalam aplikasi antivirus tetap baru karena setiap saat ada saja virus baru yang muncul, tentunya yang lebih canggih dari yang sebelumnya. Bukankah ada rahasia umum “semakin pintar polisi maka semakin pintar juga penjahat” hahahaha... Jadi pastikan untuk mengaktifkan fitur otomatis update agar antivirus mengupdate dirinya sendiri setiap hari.
  • Firewall. Firewall adalah sebagian perangkat lunak atau perangkat keras yang berada di antara komputer dan internet yang bertugas mengijinkan hal hal apa saja yang boleh masuk ke dalam sistem internet.
  • Spyware Remover. Biasanya spyware relatif lebih jinak dari segi keamanan dibanding virus. Hal tersebut karena spyware tidak melakukan kerusakan yang berakibat fatal kepada komputer namun spyware melanggar privasi dengan melacak situs web apa saja yang anda kunjungi atau menambahkan 'fitur' terhadap sistem komputer anda, yang tidak anda minta dan bahkan tidak diperlukan. Salah satu contoh terburuk yang dilakukan spyware adalah mengarahkan pencarian web yang anda lakukan ke situs lain untuk mencoba untuk  menjual sesuatu barang.
  • Koneksi Bergerak. Dewasa ini adalah lumrah untuk melakukan koneksi internet secara bergerak. Aktifitas yang tinggi menuntut mobilitas yang tinggi pula, namun seiring dengan tindakan keamanan ekstra pun harus diberlakukan. Jadi ketika anda bepergian dan menggunakan internet hotspot, wifi gratis atau warung internet, pastikan bahwa akses web email anda melalui koneksi yang aman dan sudah ter-enkripsi. Jangan biarkan seseorang 'surfing' dan mencuri password anda hanya dengan melihat anda mengetik di tempat umum. Pastikan juga, apabila rumah atau kantor anda diperlengkapi dengan wifi sudah memiliki keamanan terjamin dari siapapun yang berada dalam jangkauan akses wifi tersebut.
B. Kebiasaan Pengguna
"Pisau bisa bermanfaat ditangan koki namun berbahaya ditangan perampok", begitulah kira-kira ungkapan berkata. Begitu pula dengan internet, bagaimana ia bisa bermanfaat tentunya tergantung bagaimana orang yang menggunakannya. Pada awalnya, internet bukanlah sesuatu yang membahayakan, karena mampu meningkatkan produktivitas pekerjaan. Sekarang pun, internet lebih banyak membagikan banyak manfaat daripada mudaratnya. Hanya segelintir manusia yang memanfaatkannya demi kepentingan-kepentingan pribadi. Untuk mencegah agar kita tidak terjebak di dunia maya ada baiknya kita memperhatikan kebiasaan dalam ber-internet. Berikut serangkaian tips yang mungkin bermanfaat bagi anda dalam ber-internet :

  • Untuk tujuan apa anda ber-internet ? Hal ini menjadi dasar, karena dengan itu anda akan mengakses sebuah situs. Hindari situs yang berbau pornografi, radikalisme, underground atau apapun yang berakibat buruk pada anda. Kalau anda memasuki situs underground untuk mencari keygen, crack atau patch untuk aplikasi gratisan anda, hati-hatilah dalam meng-klik sebuah banner atau link.
  • Pastikan URL yang anda ketikkan di browser. Sebagai contoh, jika anda ingin login ke Twitter, pastikan URL tertulis www.twitter.com bukan misalnya www.twiiter.com Metode ini sering digunakan orang-orang tak bertanggungjawab untuk mendapatkan username dan password anda.
  • Jangan membuka e-mail dari orang asing kecuali jika anda dapat mempercayai mereka dan anda memiliki pengaturan keamanan di komputer anda. Beberapa junk e-mail mungkin berisi virus atau spyware yang dapat membahayakan komputer anda. E-mail seperti ini dapat secara otomatis ditandai sebagai ‘spam’ atau ‘sampah’.
  • Waspadai e-mail yang mengaku dari bank atau perusahaan anda untuk meminta informasi pribadi. Cara ini disebut phishing. E-mail tersebut biasanya memberitahu ada masalah dengan salah satu account anda berikut passwordnya. Segeralah konfirmasi pusat informasi dari bank atau perusahaan yang mengklaim telah mengirim e-mail tersebut. Tentunya mereka akan mem-verifikasi keabsahan e-mail tersbut. Ingatlah, bahwa program e-mail seperti Yahoo, Google, MSN dan yang lain TIDAK AKAN pernah meminta anda untuk mengirim password e-mail anda.
  • Hati-hati dengan apa yang anda katakan di jejaring sosial. Kalimat seperti: "Saya pergi ke pesta di ..." sepertinya bisa menimbulkan masalah terutama bagi orang yang tidak dikenal.
  • Jangan memberikan nama lengkap, alamat, atau nomor telepon anda untuk orang yang baru anda kenal di dunia maya. Untuk sekedar melakukan chatting di tempat yang umum sepertinya nickname menjadi solusi yang baik untuk digunakan.
  • Jika anda memutuskan untuk bertemu secara langsung, seseorang yang baru anda kenal dari online, bertemulah di tempat umum dan beritahu keluarga atau teman-teman dekat tentang rencana anda.
  • Baca baik-baik kalimat Term & Condition pada setiap situs yang anda masuki. Jika anda tidak ingin menerima junk mail atau dimasukkan pada daftar telemarketer, maka cari kotak kecil di bagian bawah halaman yang menanyakan apakah anda ingin menerima informasi dan penawaran dari situs tersebut. Situs yang baik akan memiliki pernyataan tercantum bahwa mereka tidak akan menjual nama anda kepada perusahaan lain. Mungkin dengan ini anda bisa terhindari dari serbuan spam.
  • Berhati-hatilah dalam bertransaksi online. Jangan pernah memberikan rekening bank anda atau informasi kartu kredit KECUALI anda belanja dengan perusahaan online yang terkenal atau mempunyai reputasi tinggi. Periksalah selalu keamanan saat melakukan transaksi. Perusahaan-perusahaan terbaik akan memiliki banyak perangkat keamanan. Ketika memberikan rincian bank atau informasi detil lain pastikan koneksi aman dan situs terpercaya.
  • Jaga password anda. Buatlah password yang merupakan kombinasi dari huruf dan angka, lalu cobalah untuk selalu mengingatnya dan TIDAK menuliskanya di secarik kertas atau menyimpannya dalam file tertentu. Jangan membuat password yang berkaitan dengan tanggal lahir, nama atau keluarga anda.
  • Hati-hati dalam menggunakan aplikasi game online pada social networking. Banyak data diri anda yang ada dalam account social media anda terbuka pada saat anda menyetujui untuk ikut dalam game online tersebut. Jangan kaget kalau kemudian, anda banyak mendapatkan e-mail yang menawarkan sesuatu.
  • Bagi anak-anak anda, coba lakukan beberapa hal berikut ini :
      1. tuliskan setiap website yang akan mereka tuju.
      2. monitor mereka ketika melakukan sign up untuk sebuah situs web.
      3. jangan biarkan anak-anak Anda sign up di situs chat.
      4. instalasi aplikasi parental control.
      5. terapkan account non-administratif untuk anak-anak. Ini sangat membantu membatasi ruang gerak anak-anak dalam mengubah pengaturan dan menginstal aplikasi.
      6. yang terpenting dari semuanya, ajaklah mereka diskusi untuk segala tindakan yang anda lakukan, alasan apa saja yang membuat mereka tidak diperbolehkan mengakses situs-situs tertentu.
  • Yang juga tidak kalah penting dalam ber-internet adalah masalah kesehatan. Bagi anda yang banyak menghabiskan waktu ber-internet maka perhatikan hal-hal berikut ini :
      1. mengatur posisi duduk, yang termasuk dengan posisi duduk adalah posisi tubuh, tangan dan kaki yang diletakkan secara baik dan benar. Tujuannya agar tubuh dalam bekerja menggunakan komputer tidak cepat lelah.
      2. sediakan air minum, hal ini untuk menghindari dehidrasi dan mencegah timbulnya penyakit ginjal.
      3. jangan duduk terlalu lama, hal ini untuk menjaga agar ginjal dan hati tidak mudah sakit.
      4. penerangan ruangan harus cukup terang, melakukan aktifitas di ruang gelap membahayakan kesehatan mata, selain otak dipaksa bekerja ekstra untuk melihat dalam kegelapan.
      5. mengistirahatkan mata, lakukan hal tersebut 10-20 menit setiap 2-3 jam sekali ditambah dengan melihat sekitar rumah anda yang masih berwarna hijau.
      6. jaga jarak pandang anda dengan monitor, hal ini untuk menghindari efek radiasi yang terpancar dari monitor. Jarak pandang yang baik adalah 30-50 cm dari monitor.
      7. gunakanlah pengaman radiasi monitor, jika tidak ada, aturlah intensitas monitor jangan terlalu terang atau gelap.
Nah... demikianlah beberapa poin untuk 'berlaku sehat' dalam ber-internet, kalau ingin ditambahkan dipersilakan. Sekarang tinggal bagaimana kita menjadi hebat dengan internet tersebut, yaah... paling tidak untuk diri sendiri dulu saja, karena segala sesuatu dimulai dari diri sendiri dulu bukan ? waks...

Percaya atau tidak, yang namanya internet, telah menjelma menjadi salah satu penemuan yang paling berguna sepanjang masa. Mungkin bisa dimasukkan kedalam buku Guiness of Record atau 7 Keajaiban Dunia, itu menurut saya. Kenapa ? Karena dengan memperhatikan apa saja yang bisa kita peroleh hanya dengan duduk di depan komputer dan terkoneksi dengan internet, bagi saya cukup mencengangkan. Coba simak hal-hal berikut ini yang bisa dilakukan dengan ber-internet, diantaranya menjadi jalan bagi banyak orang menjadi hebat bukan hanya bagi dirinya akan tetapi bagi dunia :



Update Diri
  • mengikuti tren terbaru
  • mengetahui kondisi cuaca
  • e-paper, update berita setiap saat
Mesin Pencari
  • jalankan mesin pencari anda sendiri
  • optimalisasi pencarian anda dengan kata kunci
  • cari dan pilih situs yang cocok dengan 'selera' anda
  • cari dan pilih sendiri jenis berita yang anda inginkan
  • teks, eBooks, photo, video, lagu atau apapun itu, temukan dengan mudah
Dunia Hiburan
  • mendengarkan berbagai macam musik dan radio
  • menonton siaran langsung olahraga
  • menonton beragam genre film atau video
  • membaca lelucon atau komik
  • jika bosan, pergilah ke situs permainan
  • cobalah buat acara televisi sendiri
  • pergi ke situs chat, namun INGAT berhati-hatilah
  • rekam suara, photo atau video anda, upload dan bersiaplah terkenal
  • download konten diatas yang diinginkan, carilah yang gratis
Jaringan Pertemanan
  • perbaharui dengan cepat jika jadwal pertemuan bermasalah
  • bercengkrama dengan teman-teman anda
  • mencari teman baru
  • bersosialisasilah dengan tujuan
  • membuat wadah komunitas versi online
  • buat chat room sesuka anda
  • web cam, lihat lawan bicara anda
  • mengenal orang baru dengan hobby yang sama
  • manfaatkan untuk mempromosikan produk
Personalisasi Diri
  • sewa kotak suara dengan gratis
  • mengirim surat dengan cepat dan mudah
  • buat surat dalam bentuk suara atau video
  • periksa kotak surat dari mana saja
  • tandai dan simpan situs favorit anda
  • buat akun album photo dan publikasikanlah
Aktualisasi Diri
  • sumber ide atau inspirasi
  • tulis otobiografi anda 
  • blogging, bagilah pengalaman anda
  • publikasikan artikel anda
  • menulis di mana saja
  • menerbitkan novel
  • membuat koran sendiri
  • buat website, lalu promosikan website anda
  • tunjukkan segala bentuk desain anda
  • memantau program diet
  • buat mesin pencari anda sendiri
  • ikutilah beragam kompetisi atau kontes
  • mempunyai artis idola, ikutilah gosip terbaru
  • abadikan momen disekitar anda, upload saat itu juga
Berguru
  • wikipedia, ensiklopedia dengan informasi super lengkap
  • menyelesaikan pekerjaan rumah
  • tersedia banyak guru IT virtual
  • meningkatkan pengetahuan webpage anda
  • maniak game ? belajarlah membuat aplikasi game
  • belajar memasak dan temukan jenis makanan baru
  • temukan tips mengelola rumah
  • belajar sendiri bahasa asing
  • jangan lupa pergunakankah kamus online
  • dapatkan ribuan sumber kode pemrograman
  • sumber data yang tidak ada habisnya untuk dipelajari
  • memperdalam agama dengan benar
  • kumpulkan nasihat bijak untuk anak
  • asah kemampuan 'parenting' anda
  • mencari jawaban atas masalah anda
  • belajar apa lagi ? cari saja sesuai topik yang anda suka
Pekerjaan
  • mencari nama perusahaan, alamat atau nomor telepon
  • temukan nasehat meniti karir yang baik
  • cari lowongan pekerjaan yang sesuai
  • cari sumber atau database untuk mendukung proyek anda
  • lakukan riset untuk pekerjaan anda
  • mengirim file atau folder pekerjaan
Menghasilkan Uang
  • buka toko online anda
  • lakukan pemasaran online
  • beriklanlah dengan gratis
  • mencari peluang usaha
  • menulis rencana bisnis
  • mempromosikan produk
  • mempublikasikan buku
  • kumpulkan rupiah dari website [text ads, affiliate program, subscriptions atau self-publishing]
E-commerce
  • membangun jaringan bisnis
  • pesanlah tiket secara online
  • review produk, teliti dulu sebelum dibeli
  • jual beli atau belanja online, berhati-hatilah
  • menyewa secara online, apapun itu bahkan jet pribadi
  • melakukan e-banking
  • membayar kartu kredit
Perjalanan
  • macet, pantau segera arus lalu lintas di kota anda
  • tersesat, temukan lokasi yang dicari dengan peta virtual atau GPS
  • beritahu lokasi anda dengan peta virtual
  • pilih rencana akhir pekan
  • eksplorasi beragam budaya di dunia
  • mengatur perjalanan yang anda mimpikan
Memproteksi Komputer
  • perbaharui antivirus
  • scan komputer dari spyware
  • dapatkan bantuan teknis gratis
  • akses komputer anda dari tempat lain
Dan dari semuanya itu terselip pesan penting ketika ber-internet yakni saling berbagi karena hampir sebagian besar aktifitas yang dilakukan diatas, situs-situs yang ada tidak akan memungut biaya sepeser pun alias GRATIS.

Jadi sekarang, mulailah ber-internet secara sehat dan 'hebat' menjadi buah yang bisa anda petik kemudian.

with respect,

:> ANTz

read more...

"Memperingati Hari Guru Nasional 2011"

10:30 AM 25/11/2010, ANTz wrote :


Pagi, seperti biasa saya melakukan ritual sehari-hari di dunia maya. Setelah mengunjungi http://www.webshots.com/, maka segeralah saya menuju Google.com. Situs yang satu ini merupakan pintu masuk untuk berkelana di dunia maya. "Wah... Google ada banner baru nih...", saya termasuk orang menyukai hal tersebut, karena bagi saya itu merupakan sebuah kreatifitas. Selain itu Google sendiri menggunakannya untuk memperingati peristiwa tertentu, bentuk penghargaan bagi umat manusia, begitulah kira-kira.

Lantas saya ingin tahu dalam rangka apa kali ini, Google membuat banner tersebut. Kemudian saya menyorot gambar tersebut, maka muncullah popup dengan tulisan seperti ini : "Memperingati Hari Guru Nasional 2011". Ekspresi pertama saya tentu bangga, Google peduli dengan guru di negeri tercinta ini sedangkan saya sendiri tidak tahu apabila hari ini hari jadi "pahlawan tanpa tanda jasa" tersebut. Namun segera setelah itu saya melihat ada yang ganjil dari tulisan tersebut yaitu tahunnya yang 2011. Lha kok ? Maklum karena baru bangun tidur mungkin saja saya yang belum sadar, hahahah... lantas saya memeriksa kalendar trus melakukan pencarian di Google dengan keyword Hari Guru Nasional. Ternyata benar hari ini Hari Guru Nasional namun bukan tahun 2011. Akh, Google melakukan kesalahan kecil, namun menjadi bisa menjadi besar karena eksistensi mereka. Mudah-mudahan Google segera mengganti tahunnya. Ketika saya memulai mengetik postingan ini, dan mulai memasukkan tanggal, saya baru sadar bahwa kesalahan tersebut MUNGKIN terjadi karena bulan yang notabene November atau jika dikonversi dalam bentuk angka menjadi 11 terbawa ke dalam tahun tersebut.

Saat saya mengetik ini pun saya masih takut apakah saya yang keliru, maklum orang kampung yang sering melakukan salah ketik hahahaha.... Buat Google, maju terus. Tetap buat banner-banner yang menarik ya...

with respect,

:> ANTz

read more...

Thursday, November 11, 2010

Saya Tidak Punya Anak !!!

10:10 AM 1/24/2009, ANTz wrote :

Hari menjelang tengah malam ketika kami beranjak meninggalkan kawasan Menteng. Sebuah taksi berwarna putih dengan inisial C menunggu dengan sabar, berharap calon penumpang segera menghampirinya. Tidak ada pilihan lain... hanya taksi C itu saja.

"Kita seperti artis saja ya..." ucap seorang teman.
"Iya..." jawab gue pendek.

"Kita kemana pak ?" sapa pengemudi taksi.
"Ke arah Mampang pak !" gue berkata.
"Maaf, bapak 'halak kita' ya ?" gue segera menambahkannya dengan pertanyaan.
"Iya..." jawabnya datar.
"Hehehe..., wuah sama... kalau gitu kita ngobrolnya nanti saja ya pak, setelah mengantarkan teman ini." kata gue sambil tersenyum.

Entah kenapa setiap kali menggunakan jasa taksi, gue selalu segera berusaha mengidentifikasi pengemudinya. Kalau seorang diri, gue selalu duduk di samping pengemudi. Biasanya melirik tanda identitas yang terletak di dashboard. Dari situ biasanya cukup untuk mengenali siapa orang yang mengemudikan taksi tersebut. Photo, nama dan masa tugas, bagi gue, hanya menjadi bahan untuk memulai perbincangan, bukan untuk tujuan keamanan selama dalam perjalanan. Namun sayangnya dari sekian banyak 'merek' taksi di kota ini hanya segelintir yang tersedia tanda tersebut. Alhasil jurus berikutnya, apabila tanda tersebut tidak ada adalah raut muka & tata bicara sang pengemudi.

Hal tersebut yang gue lakukan saat itu. Karena duduk di belakang pengemudi maka aksennya ketika menyapa pertama kali itulah menjadi identifikasi pertama. "Hmm... 'halak kita' nih..." gumam gue dalam hati sebelum melontarkan pertanyaan diatas kepadanya. Halak kita adakah istilah yang dipergunakan rumpun suku Batak untuk menyebut sesamanya yang se-suku.

Selama perjalanan mengantar teman hingga kawasan Mampang, tidak ada perbincangan dengan bapak pengemudi tersebut. Barulah setelah mengantar teman, gue pindah duduk untuk pindah ke depan, di samping pengemudi. Nyaman... lumayan teman ngobrol selama di jalan :). Maka dimulailah perbincangan kami, awalnya hal-hal biasa saja, seperti tinggal dimana dan marga beliau. Sampai... akh... gue menanyakan hal yang sepertinya wajar namun sangat sensitif baginya.

"Bapak anaknya berapa, sepertinya seusia saya ya ?" gue bertanya.
Dengan rambut yang hampir memutih semua layak bapak sendiri, gue yakin anaknya akan seusia gue. Namun sungguh... sungguh... menakjubkan jawabannya.
"ANAK... TIDAK ADA ANAK !" gumamnya dingin.
Gue tersentak, pandangan gue yang asyik memandang lalu lintas malam, sesaat gue alihkan ke beliau. Matanya menyiratkan kepedihan... Kontur rahangnya menambah kesan itu seperti. Menggeram menahan beban.
"Mungkinkah bapak ini tidak menikah atau tidak dikaruniai anak ?" pertanyaan tersebut berkecamuk di pikiran gue ditambah perasaan bersalah atas pertanyaan tersebut.

"Oooh..." hanya itu yang keluar dari mulut gue.
Sesaat kemudian kami terdiam... hening...
"Narkoba..." lirihnya pelan.
"Akh... benda itu lagi..." gumam gue dalam hati.
"Maap, anak bapak sudah tiada ya ? tanya gue pelan.
"Iya..." lagi-lagi ia berkata lirih.
"Semua salah saya..." agak tercekat suaranya.
"Saya berpikir sudah banting tulang nyari duit seharian, untuk dia. Ternyata itu tidak cukup... saya salah" ujarnya.

idak lagi dingin & datar seperti di awal perbincangan kami. Tidak ada lagi kesan orang Medan yang mempunyai mitos berwatak keras. Semua sirna, yang tertinggal hanya sesosok orangtua yang sakit rindu, menggambarkan kepedihan yang sangat dalam.

Sayang saat itu, mood gue untuk 'menginterogasinya' langsung lenyap. Hal-hal seperti berapa jumlah anaknya, usia almarhum anaknya dan jenis kelamin almarhum anaknya tidak jadi gue tanyakan. Kepedihannya sangat kental terasa menyebabkan gue tidak sampai hati untuk bertanya lebih jauh. Namun dari kesan yang terpancar dari raut mukanya, jelas almarhum anaknya adalah seorang laki-laki dan mungkinkah sekaligus anak tertua ? Sebuah harapan orangtua bagi seorang anak laki-laki untuk meneruskan harapan keluarga.

Selanjutnya perbincangan kami bukanlah dalam bentuk tanya jawab, tapi ke arah membagi pengalaman. Gue berinisiatif mulai membagi sedikit pengalaman ketika bergaul dengan teman-teman pemakai dan beragam alasan mengapa mereka terjerumus ke dunia tersebut. Paling tidak, setelah itu perbincangan mengarah ke arah yang positif. Bapak itu mulai bercerita bagaimana cara dia menyikapi hidup di masa sisa hidupnya.

"Yah... beginilah... Seusia saya masih menyopir taksi tengah malam begini" katanya.
"Benar pak... Jujur ketika saya masuk tadi, ketika saya melihat bapak, saya langsung terikat bapak saya" gue berkata.
"Hebat... kayak bapak begini seharusnya di rumah, apalagi jam segini" gue melanjutkan kalimat yang terputus.
"Yah... Tapi saya harus cari makan. Dan saya masih memiliki seorang anak perempuan" jawabnya.
"Usia berapa pak ?" gue mulai memberanikan diri bertanya.
"Masih SMP..." jawabnya.
Akh... lengkap sudah apa yang dihadapi di sisa hidupnya. Tiada pilihan lain, bapak ini menjadi tiang penghidupan terakhir ketika anak laki-laki harapannya tiada tergerus narkoba. Sejuta asa di dada musnah dihantam gejolak anak muda.

Memasuki kawasan Fatmawati, gue merasa dia seperti orangtua sendiri, yang tak pantas di jalan. Berulang kali memastikan arah jalan kepada gue sebagai penumpang, menandakan ingatannya mulai berkurang. Akhirnya gue memutuskan untuk turun di jalan besar terakhir yang masih bisa diingatnya, itu hanya 5 menit berjalan kaki ke arah rumah. Karena akan menyulitkan baginya masuk ke gang-gang kecil, untuk kembali menemukan jalan utama :)

"Hidup saya sekarang adalah menjadi saksi". Itulah salah satu kalimatnya yang beberapa kali terucap dari bibirnya dan sampai sekarang sulit gue mengerti. Saksi apa dan bagi siapa ?

Yang jelas, hidup selalu menyisakan makna di setiap kedua sisinya; kepedihan dan keriaan. Terlepas mana yang lebih dominan. Setiap manusia memaknai hidupnya menurut apa yang dialaminya dan bagaimana kemudian ia menyikapinya. Dari sana akan terbit serangkaian pesan kehidupan. Uniknya, seringkali orang lain sulit memahaminya, yah... sulit... karena kita tidak mengalaminya ;)

Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan.

with respect,

:> ANTz

read more...

Wednesday, November 03, 2010

Kebahagiaan, Pendekatan 2 Sisi

4:00 PM 11/21/2009, ANTz wrote :

Benar dan sungguh benar, pernyataan setiap manusia akan berubah, hanya pertanyannya seberapa cepat seseorang berubah dan untuk esensi apa dia berubah. Kebahagiaan ? Bukankah itu yang dicari semua insan ? Apapun bentuknya, hal inilah yang akan terus dicari. Dicari sampai 2012 [baca : kiamat] hehehehe... sekarang semua orang tahu deh kapan dunia akan kiamat, bukan hanya Sang Pencipta :)

Lagu I Believe I Can Fly yang dibawakan secara apik oleh Ray Kelly serta merta membawa ingatan gue kepada Peterpan. Sosok bocah yang tidak pernah mau berubah menjadi dewasa hanya karena tidak mau kehilangan kebahagiaannya, bukan karena kelebihannya. Dia tahu persis dimana letak kebahagiaannya dan akan mempertahankannya apapun yang terjadi. Idealis yang amat sempurna bukan ?

Dua pendekatan yang berbeda dengan tujuan yang sama. Realistis pada keadaan atau idealis yang mengalir dalam darah. Tapi tunggu dulu !!!Bukankah Peterpan hanya karakter fiksi ? Mana mungkin terjadi !!! Lalu gue teringat kembali tayangan Kick Andy di Metro TV kemarin Jumat malam. Mengusung tema 'Pemberontakan Anak-Anak Muda dalam Bermusik', salah seorang tamu yang hadir bernama panggung Frau dengan piano kesayangannya bernama Oscar. Pemudi lugu berusia 19 tahun perpaduan Jawa - Jepang ini ternyata tenar di Eropa. Kemahirannya mencipta, memainkan sekaligus menyanyikannya menyihir penggemarnya di Benua Biru.

Ketika Andy F. Noya bertanya : "Benarkah lagu-lagu tersebut bisa di download gratis di Internet ?"
Frau menjawab : "Iya"
Andy melanjutkan : "Kenapa ya ?"
Frau menjawab : "Saya senang bermusik, ini bukan pekerjaan dan saya ingin orang lain dapat menikmatinya".
Adegan tersebut menyiratkan bagaimana seseorang menikmati hidupnya dengan membagi keindahan talentanya tanpa peduli apa yang akan diperolehnya. TIDAK LEBIH.

Dan ketika gue memilih beberapa orang lain yang menikmati hidupnya, teringatlah gue kepada sosok seperti Bunda Theresa, James Nachtwey sampai Ibu Muslimah yang hidup di negeri ini. Sepanjang yang gue tahu, tidak ada penyesalan dalam diri mereka memilih jalan hidup yang 'kelewat nyeleneh'. Menjamah orang-orang penderita lepra, mengabadikan kejamnya perang atau bercengkerama dengan bocah miskin merupakan pilihan hidup yang tak menjanjikan.

Tapi lihatlah, bagaimana mereka mewarnai dunia dengan crayon kebahagiaan mereka. Sesungguhnya itu bukan sisi 'sok sial' yang ada dalam diri manusia, seperti pernah dikemukakan salah satu boss di mana gue pernah bekerja beberapa tahun silam [maaf ya pak] atau dengan istilah terlalu idealis [perfeksionis] yang dikatakan seorang psikolog dan orangtua gue. Ini hasrat bukan sekedar ambisi, mengalir begitu saja dalam diri.

Lalu apa yang mereka CARI ? Pujian, sanjungan, kedudukan, harta atau kebahagiaan sebagai ujung dari semuanya ? Gue rasa tidak dan gue yakin mereka tidak pernah membutuhkan itu.Mereka BUKAN sedang MENCARI, mereka sudah MENEMUKAN dan mereka sekarang MEMBAGINYA. Mungkin perkataan Martin Luther King Jr. memberi makna lebih, "Life's most urgent question is : what are you doing for others". Baginya hidup adalah apa yang kita lakukan bagi sesama. Atau simaklah bagaimana Bunda Theresa mengeluarkan resepnya, "You can do no great things, just small things with great love".

Jiwa sosial, idealis, perfeksionis, atau apapun sebutannya, mereka hanya orang-orang biasa yang dilahirkan dengan kesabaran, kesetiaan serta keteguhan yang luar biasa. Kegelisahan hatilah yang membuat mereka menjadi berbeda dan tak urung setiap tindakannya menjadi sulit dipahami, walau sesungguhnya pribadi mereka teramat sederhana. Mereka hanya ingin membuat orang-orang disekitarnya bisa tersenyum, membangkitkan harapan bahwa dunia dapat sedikit lebih baik. Dan ketika dunia tersenyum, mereka akan tersenyum. BAHAGIA... ? hahahaha... cobalah rasakan !!!

Hujan turun dengan tenang, menghiasi sore ini... semakin memperjelas sesuatu yang dulu hanya keping-keping puzzle akhirnya menjadi sebuah gambar yang jelas :).


with respect,

:> ANTz

read more...

Tuesday, November 02, 2010

Profesimu Mempengaruhiku #1

9:17 AM 9/26/2009, ANTz wrote :

Waduh... perut lapar banget nih... Gue melirik jam dinding, sudah melewati pukul 8 malam. Biasanya jika sudah tidak ada pelanggan gue sudah memutuskan untuk pulang. Tapi kondisi menghendaki lain, masih ada pelanggan... bisa-bisa sampai jam 10-an nih... Tahan atau tidak yah ? Biasanya sih 1-2 jam gue tahan... tapi malam ini kayaknya tidak bisa. Tapi mau cari makanan dimana ? Hujan begini... mana petir masih berkilatan di langit sana... mana warteg terdekat belum buka karena masih mudik... Duh... gimana nih ? Jam dinding menunjukkan jam 8.30... ketika suara nyaring itu terdengar indah terdengar di telinga. Yup... tukang nasi goreng. Penjual mana lagi yang ditunggu saat perut lapar dan dingin seperti ini. Makanan apa lagi yang dicari untuk saat seperti itu yang cukup untuk "menendang" dan menghangatkan perut selain nasi goreng. Dari dalam gue memanggil tukang nasi goreng tersebut, gue segera keluar memesan sepiring nasi goreng untuk segera kembali ke dalam ruangan. Bukannya apa-apa, kalau air hujan masih bisa ditoleransi tapi petir tunggu dulu... Sambil menungggu gue tercenung akan profesi yang satu ini dalam kondisi saat itu. Dan akhirnya mengalirlah cerita mengenai profesi-profesi yang selama ini mengilhami diri gue dari sisi mereka masing-masing.

1. Tukang Nasi Goreng
Percaya atau tidak, kehadirannya lumayan ditunggu ketika malam menjelang. Sederhana memang, namun tukang nasi goreng menjadi solusi tepat pengisi perut yang "cukup menendang" di kala malam. Apalagi untuk perut-perut berukuran besar.... :). Ada cerita lucu yang membuat profesi ini menarik perhatian gue. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 9.00 waktu gue tiba di rumah. Selama seminggu orangtua pergi ke luar kota, otomatis tidak tersedia makanan untuk mengisi perut. Maka gue bermaksud menunggu tukang nasi goreng lewat untuk memenuhi kebutuhan perut. Baru sejam kemudian yang ditunggu datang, ketika perut sudah tidak kuasa menahan lapar. Gue saat itu berada di lantai 2 rumah orang tua. Dari lantai 2 tersebutlah gue memanggil tukang nasi goreng tersebut. Wuaah... keburu lewat... Gue langsung segera berlari ke luar untuk mengejarnya. Bagaimana jika lewat jauh, bisa-bisa malam ini puasa sampai besok pagi. Mana di daerah sekitar rumah sulit mencari warung nasi jika sudah pukul 10 malam. Setelah melewati gerbang rumah dan sampai ke jalan baru terlihat tukang nasi goreng tersebut. Akhhh... untung masih kelihatan... Bang !!! sekali teriakan cukup baginya untuk memutar gerobaknya untuk menuju ke arah gue.

"Tadi dipanggil kok ga denger mas ?" gue langsung bertanya.
"Maaf, tadi saya cari-cari tapi orangnya tidak keliatan, jadi terus saja" katanya lugas.
"Ohh... maaf emang iya. Abis saya manggilnya dari atas (baca lantai 2)" jawab gue seraya menunjuk ke arah rumah.
"Oh.. pantas ga keliatan yah" katanya.
"Atau mas pikir bukan manusia yang manggil yah ?" tanya gue sambil bercanda.

Maka... setelah itu mengalirlah obrolan ringan sambil menunggu selesainya nasi goreng pesanan gue. Ternyata banyak cerita dibalik profesi seorang pedagang nasi goreng. Umumnya bercerita resiko apa saja yang mengiringinya setiap kali berjualan. Mulai gangguan mahkluk halus, resiko penyakit yang timbul, sepi konsumen, harga minyak goreng dan minyak tanah (sebelum menggunakan gas) hingga gangguan alam. Yang terakhir inilah ide mengapa gue menulis artikel ini.

Malam yang dingin saja sudah cukup menjadi resiko bagi profesi-profesi yang beroperasi malam hari terutama buat pedagang yang mendorong gerobak seperti nasi goreng ini. Apalagi ditambah bila hujan deras dan petir menyambar-nyambar. Namun hebatnya pengakuan dari pedagang ini menjadi kebalikannya. "Mas, kalau malam semakin dingin atau hujan seperti ini malah makin banyak orang butuh makanan, jadi disitulah rezeki kita. Mosok udah dikasih rezeki malah ditolak ???" Atau dengarlah jawaban ini dari pedagang nasi goreng lainnya : "Semua gangguan itu jangan diambil pusing mas, kita nrimo aja. Asal berkelakuan bersih, Insya Allah tidak ada yang bakalan mengganggu".

2. Pemulung
Kalau ditanya tentang profesi ini, gue akan sedikit tersenyum. Maklum sudah melekat sejak gue masih kanak-kanak. Yah... latar belakang keluarga PNS dan orangtua yang kelewat disiplin membuat kami kesulitan memperoleh uang jajan. Ketika itu, kami terpaksa memutar otak untuk mendapatkan sedikit uang, hanya sekedar menikmati jajanan khas anak-anak. Salah satunya mencari barang-barang bekas !!! Ha ha ha... ya... barang bekas... Namun bukan semua barang bekas, kami hanya memburu barang tertentu yaitu besi dan tembaga atau paling tidak kardus. Pada masa itu, barang-barang tersebut cukup bernilai tinggi dibandingkan plastik dan koran. Jadi ketika itu masa kecil gue pun sedikit dihiasi oleh pekerjaan ini, tentunya tidak sepenuh waktu :).

Memasuki usia 20-an, gue kembali bersentuhan dengan profesi ini. Sebenarnya itu dikarenakan karena gue sempat ikutan semacam kelompok anak muda yang bergerak di bidang sosial. Kami mengumpulkan dana dan menyalurkanya, sesederhana itu. Targetnya tidak jauh dari anak-anak jalanan, pengamen dan pemulung. Dan kini ketika kelompok tersebut sudah mati suri, gue pun masih bersinggungan dengan mereka, namun kali ini hanya sebagai pengamat. Mengamati dari balik kaca gelap, puluhan pemulung yang melintasi setiap hari di depan tempat gue. Tua, muda, anak-anak, wanita, pria, gemuk, kurus... semuanya komplit.

Dari sekian interaksi tersebut, ada hal-hal yang membuat gue kagum. Syarat terbesar pemulung adalah bahwa anda tidak boleh malu melakoni pekerjaan tersebut. Anggaplah orang lain tidak ada... begitulah kira-kira. Syarat lain yang harus diterima adalah siap dalam kondisi apapun, panas terik nan menyengat atau hujan dingin menyapu badan. Jangan lupakan bahwa mereka tidak mengenal kata kotor, tidak mengenal tanggal merah atau bahkan libur nasional MUNGKIN cuti bersama. Kalau menyambangi kediaman mereka, bersiaplah untuk keadaan yang tidak biasa, mulai dari bau menyengat, debu yang bertumpuk, karat disudut-sudut ruangan atau kursi yang sudah ringkih. Berikutnya apa yang dihadapi seorang pemulung, bersiaplah menghadapi sorot tajam pemilik tong sampah atau seperangkat tudingan pengambil barang orang (walaupun sejujurnya ada oknum pemulung melakukan hal tersebut).

Dua hal yang membuat gue semakin terpesona adalah pertama, setiap sore mereka pulang, semakin berat atau penuh karung yang dipikulnya semakin cerah raut muka mereka, padahal gue tau persis bagaimana beratnya memanggul karung dengan muatan penuh seperti itu. Dan ketika barang yang diperolehnya terlalu besar bagi seorang diri apa yang mereka lakukan ? Mereka pulang.. mengambil atau meminjam gerobak.. memanggil teman.. dan kembali kepada barang yang ditemukan tersebut. Hal kedua adalah peristiwa mengesankan yang gue alami. Suatu ketika pernah gue memberi satu plastik aqua yang sudah gue kumpulin kepada salah seorang pemulung yang gue perhatikan paling rajin. Tanggapannya sungguh mengesankan, bukan ucapan terimakasihnya namun gerak tubuhnya setiap kali gue berpapasan dengan pemulung tersebut di kemudian hari.
"Pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak". Gue rasa semut menjadi sosok yang tepat menggambarkan profil pemulung.


3. Aktivis Lingkungan
Gue lupa kapan tepatnya tertarik akan profesi ini. Yang jelas organisasi bernama Green Peace-lah yang membuat gue jatuh hati, yah... paling tidak 12 tahun yang lalu, sempat membuat gue memasukkannya sebagai salah satu pilihan selain pengacara bila melanjutkan kuliah. Visi dan misi penyelamatan bumi yang diekspresikan dengan serangkaian tindakan kelewat radikal di berbagai penjuru dunia membuat gue terpesona. Mereka tidak pernah peduli dengan penghalang APA yang mereka hadapi, DARIMANA asal penghalang dan SEBERAPA kuat penghalang itu. Tidak mengherankan jika perusahaan-perusahaan raksasa berskala internasional hingga negara-negara adi kuasa dibuat jeri atas ulah mereka. Di mana ada indikasi perusakan lingkungan dipastikan tulisan hijau muda "Green Peace" diatas media berwarna putih ada di lokasi tersebut.



Jadi ketika sekarang, warga dunia latah meneriakkan slogan "pemanasan global" dan melakukan serangkaian gerakan di berbagai belahan dunia, Green Peace sudah melakukannya jauh hari sebelumnya dengan slogan yang selalu melekat di dirinya. Bahkan yang membuat hati bergetar, ketika dalam sebuah peristiwa mereka menghalau sebuah kapal tanker minyak berukuran raksasa hanya dengan sebuah kapal kecil yang sangat kecil, laksana Daud versus Goliath. Belakangan gue baru tahu kalau kapal yang disebut sebagai Rainbow Warriors (Laskar Pelangi) tersebut menggunakan sumber daya yang semuanya alami dan dilengkapi standar teknologi lumayan canggih. Pantaslah Green Peace menjadi salah satu organisasi yang disegani, paling tidak apa yang diwacanakan telah dimulai dari diri mereka sendiri.

Dan sekarang pribadi-pribadi non profit pun turut membuat gue semakin menyegani profesi ini. Meninggalkan hiruk pikuk kota sekadar berada di penangkaran penyu, usaha kreatif daur ulang, pelestarian pulau Komodo, atau penyelamatan hutan bakau di pesisir pantai. Siapapun itu kita tahu, bahwa bumi ini semakin tua, eksploitasi tanpa memikirkan reservasi akan membunuh diri sendiri.


with respect,

:> ANTz

read more...

Monday, November 01, 2010

Tanah Memeluk Tanah, Tulang Meremuk Tulang

10:30 AM 10/6/2009, ANTz wrote :

mentari belumlah pudar
ketika lempeng itu bergetar

merontokkan bangunan
merobohkan surau
melongsorkan bukit
mengubur nagari

manusia berlari ketakutan
sanak menyeruakkan risau
rintihan membelah langit
panik menyelimuti nagari

sore itu kelabu menggayut
... di Sumatera bagian barat

jerit...
tangis...
histeris...
erang sakit...

hanyalah melodi
pengiring tragedi
siapa mau peduli
saat maut mengintip diri

kemanakah akan berlari
dimanakah tempat berlindung
kesana longsor mengintai
disini tsunami kan berkunjung

{sejenak}
air langit pun tercurah
entah turut bersedih
atau menambah jerih

menemani pekatnya malam
memupus harapan
secercah adanya bantuan

dihiasi api yang menyambar
menyempurnakan penderitaan
inilah awal yang memilukan

{akhirnya}
tanah memeluk tanah
untuk melepaskan kerinduan
akulah peraduan terakhirmu

tulang meremuk tulang
untuk menunjukkan kerapuhan
engkaulah pembuat diriku

di lembah itu terkubur jasad
di reruntuhan ini terselip raga
jadilah disana pemakaman
disini monumen bencana

perih mengiris hati
sedih menyumbat nadi
pedih menghentak sendi

terbersit sejumput makna
adakah alam menyampaikan pesan
melampiaskan bencana
tuk sejenak mendamaikan insan

bahwa kita adalah sama
bumi ini bukan milikmu
pun tanah ini bukan punyaku
memberi kita satu rasa...

{lihatlah}
sawo matang...
hitam legam...
kuning langsat...
putih susu...

{bersama}
memutus rentang budaya
mengarungi luas samudera
mengulurkan selaksa rasa
menyisipkan sebuah asa

masihkah 1..2.. nyawa tersisa
bagi selaksa nyawa mengiba

mengais-ais reruntuhan
mengangkat bongkahan
membongkar jeruji
memotong tulang besi

adakah 1..2.. jiwa merintih
bagi selaksa jiwa melirih

tak peduli malam menyapa
dan hujan turun sekejap
hingga lapar turut menyiksa
tak urung panas menerpa
pun medan berat menyergap
hingga letih datang memaksa

dimanakah 1..2.. kerabat terbaring
bagi selaksa kerabat mengiring

...
tanah akan terus bergolak
air akan tetap beriak
api menjalar gemeretak
gunung memuntahkan dahak
siapa yang sanggup berteriak
ketika bumi berkehendak

nestapa ini bukanlah akhir
walau peradaban pasti berakhir
duka senantiasa mengalir
sepasti suka juga bergulir

USAHLAH mengangkat tangan
tanda menyerah
TAPI angkatlah tangan
untuk berserah

hai lelaki negeri...
cintailah alam ini
belajarlah kepadanya
agar ia tak menghajarmu

hai perempuan negeri...
belailah bumi ini
sayangilah kekayaannya
karena ia akan mencukupimu

{lihatlah si Upik mulai bernyanyi
dan Buyung pun turut menari
Uni mengulum senyum berseri
hai Uda marilah mengiringi

serunai mengalunkan senandung
Minang Baliak mengurai mendung
pelosok nagari bersolek menjamu
ranah Minang pasti bersemu}

sepeluk kata bagi insan nagari yang remuk hancur dan tangan-tangan yang tulus terulur


with respect,

:> ANTz

read more...

Thursday, October 28, 2010

Hati-hati Main Game di Facebook

1:07 PM 10/28/2010, ANTz wrote :

Facebook kembali tersangkut masalah privasi. Investigasi yang dilakukan Wall Street Journal mengungkap bahwa sepuluh aplikasi terpopuler di Facebook, termasuk permainan FarmVille, Texas Hold'Em Poker dan Frontier Ville, menjadi agen utama pembocor identitas pemilik akun kepada pihak lain.

Sekitar 25 perusahaan data dan periklanan menerima data pribadi pemilik akun Facebook dari perusahaan pemilik aplikasi permainan dan fitur-fitur lain yang terdapat dalam media sosial itu. Dengan data itu para pengiklan bisa lebih gampang menyasar individu yang sesuai dengan produk mereka.

Jutaan data pribadi itu, termasuk nama pengguna dan daftar teman mereka di dunia maya, dibocorkan tanpa sepengetahuan para pemilik akun. Diduga puluhan juta pengguna Facebook menjadi korban kebocoran data itu.

Pelanggaran aturan
Kebocoran data itu bisa terjadi bahkan pada pemilik akun dengan pengaturan kerahasiaan maksimum. Pembocoran data itu sebenarnya melanggar peraturan yang dibuat Facebook sendiri dan akan memunculkan pertanyaan tentang kemampuan media sosial itu untuk melindungi informasi tentang penggunannya.


Para pakar keamanan dunia maya mewanti-wanti bahwa data yang bocor bisa digunakan untuk membangun gambaran yang rinci dari kepribadian sesorang seperti minat,lingkungan persahabatan dan keluarga, serta gaya hidupnya.

Banyak yang kemudian mengutuk apa yang mereka sebut 'serangan yang memalukan atas privasi' dan memperingatkan para pengguna Facebook bahwa media itu bukan wilayah 'privat'.

Facebook sendiri mengatakan akan segera mengambil tindakan untuk melumpuhkan semua aplikasi yang melanggar aturan itu. Tahun lalu para pemimpin facebook terpaksa mengubah kembali aturan penggunaannya setelah puluhan ribu penggunanya mengeluhkan pelanggaran atas privasi dan hak cipta karena media sosial itu secara sepihak mengklaim berhak menggunakan foto dan postingan para penggunanya.

with respect,

:> ANTz

read more...

Wednesday, October 27, 2010

Anak-Anak Harus Mengerti

8:00 PM 10/17/2009, ANTz wrote :

Sore menjelang malam, ketika pria paruh baya itu masuk dengan segelas kopi kental di tangan. Ia segera menghidupkan kipas angin, mencari asbak rokok, lalu duduk disamping gue. Sesudah itu ia menghempaskan sebungkus rokok dari kantong celananya ke lantai, mengambil sebatang rokok, menyulutnya, kemudian menghisapnya dalam-dalam...

"Yang udah pusing ga usah ditambah pusing, ya engga Om ?" katanya datar. Gue terkesiap mendengar ucapannya, perlahan meletakkan hanphone lalu mengecilkan suara televisi. Nada bicaranya kontras dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Sorot matanya menerawang dalam, seakan ada kegalauan yang sangat dalam di hatinya.

Hampir satu jam berikutnya, gue hanya bisa menjawab dengan satu kata : IYA atau sesekali tersenyum {pahit} mengimbangi kegalauan hatinya. Padahal dalam hati gue tercenung, alangkah kontrasnya antara acara di sebuah stasiun televisi mengenai pencarian jodoh dan topik yang sedang gue baca di hanphone  dengan curhat bapak ini.

"Om kan paling ga udah jadi sahabat saya selama ini, saya cuman butuh doanya, kasihan anak-anak kalau "hal itu" terjadi... mereka pasti bingung..." katanya lirih. Gue hanya menjawab dengan anggukan & sedikit tersenyum pahit. DAN BENAR, kalimat pembukanya yang terlihat lugas dan keras menjadi luntur oleh kalimat terakhirnya yang menutup perbincangan malam ini.

Hujan masih turun dan guntur bersahutan menerangi malam ini. Gue tetap memutuskan untuk pulang... menerobos derasnya hujan. Akh... apakah anak-anak yang HARUS SELALU DIPAKSA menerima "ego kedua orangtua" mereka ? Gue rasa jika mereka tahu dan mengerti kondisi kedua orangtuanya, doa dan kepedihan merekalah yang sanggup menggedor sang Ilahi. Atau pertanyaan-pertanyaan yang nantinya terucap, seperti "dimana Ayah ?" atau "kemana Ibu ?" seharusnya sanggup meluluhkan kekerasana hati kedua orangtuanya. Entahlah...

Gue tak tahu apa yang akan terjadi besok, hanya bisa memenuhi permintaan beliau, berdoa agar keadaan menjadi baik... Gue takkan pernah bisa mengerti, sampai kapan pun... dengan alasan apa pun...

with respect,

:> ANTz

read more...

Tuesday, October 26, 2010

Visi Seorang Kaum Muda

9:08 AM 10/28/2004, ANTz wrote :

Pagi ini, sekitar pukul 08.00 WIB saya sedang menonton TV. Akibat terlalu banyak stasiun TV maka perpindahan channel pun kerap terjadi, hal tesebut dipengaruhi berbagai program acara yang ditayangkan secara bersamaan namun sayang untuk dilewatkan. Nah...biasanya sekitar antara jam 08.00 - 09.00 WIB itu saya selalu punya 3 channel pilihan, yaitu sebuah program talkshow ringan, film kartun anak-anak dari Legenda Tionghoa dan sebuah ajang kompetisi olahraga jalanan. Untuk program pertama biasanya saya lihat dulu topiknya apakah menarik atau tidak, ternyata terlihat nara sumber seorang pemuda yang bisa dipastikan dia seorang mahasiswa karena mengenakan jaket berbau mahasiswa (bukan jaket resmi universitas) dengan logo M di lengan bajunya. Wuaaahh....ini pasti tentang tawuran !!! Tuduh saya dalam hati. Keengganan pun memaksa saya untuk segera beralih kepada kedua acara berikutnya.

Setelah 30 menit kedua program acara tersebut pun usai, saya pun kembali mencoba melirik program talkshow tadi. Hati saya sontak tertarik karena sang presenter menanyakan visi ke depan pemuda bagi sang narasumber ini. (Belakangan saya baru tahu kalau topik hari ini 76 Tahun Sumpah Pemuda). Berikut replika 30 menit tersisa dari acara tersebut melalui sisi ketertarikan saya pribadi.
  • Di program tersebut seperti biasa terdiri dari 2 presenter. Narasumber bisa 1 atau lebih, untuk hari ini 2 orang. Kedua narasumber jelas pemuda dengan penampilan yang agak berbeda, seorang seperti yang saya sampaikan sebelumnya mengenakan wear pack khas mahasiswa sehingga menonjolkan aroma ke-mahasiswa-annya dan yang satunya lagi menyiratkan image seorang muda yang bebas, mengenakan kaos krem berkerah yang didalamnya terlihat kaos oblong putih.
  • Kedua narasumber sama-sama sepakat bahwa harus membuat diri mereka berhasil terlebih dahulu baru nanti kalo ini kalo sudah berhasil memikirkan sekitarnya (dalam bahasa mereka negara).
  • Seorang sosiolog menyatakan tidak benar pendapat bahwa mahasiswa universitas A itu bangga ketika melakukan tawuran dengan mahasiswa dengan universitas B dalam kerangka menjaga nama kampus. Kata beliau sesungguhnya mahasiswa itu bangga ketika kampusnya berprestasi. (saya tidak fakta sesungguhnya, apakah mahasiswa yang tawuran sependapat dengan sosiolog tersebut. Mungkin iya bagi mahasiswa yang enggan tawuran).
  • Terdapat tayangan peristiwa tawuran yang berlatar belakang sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta yang namanya memuat sebuah agama (PT ini cukup sering terlibat tawuran). Juga yang baru-baru ini dimana sejumlah mahasiswa dari perguruan tinggi yang mengkhususkan diri dalam pengajaran agama mengamuk menghancurkan sendiri kampusnya.
  • Selain mereka di lapangan diwawancarai 4 orang mahasiswa yang berbeda dengan pertanyaan apa rencana ke depan. Jawabannya adalah (1) menyelesaikan kuliah, (2) meneruskan cita-cita pendahulu, (3) membangun bangsa negara dengan tidak terjerumus ke narkoba, (4) membangun bangsa karena masih percaya budaya bangsa ini cukup tinggi.
  • Juga terdapat seorang penelpon dari daerah yang menyatakan jangan menggeneralisasi keadaaan pemuda saat ini yang hanya tawuran dan dugem di semua tempat sama. Di desanya, pemuda-pemudi sanggup berkarya dan menghasilkan income yang cukup besar, begitupun di Bandung kata beliau, para pemuda disana ada yang merintis usaha sendiri walaupun orangtua mereka mapan.
  • Narasumber pertama secara tidak langsung mengungkapkan ada perasaaan atau emosi yang lepas ketika tawuran dengan menolak bahwa ketika tawuran mempunyai kehendak untuk melukai.
  • Kedua narasumber saat ini menyadari bahwa tawuran itu tidak ada manfaatnya dan itu sudah menjadi masa lalu. Sekarang bagi mereka adalah segera menyelesaikan kuliah, mencari pekerjaan, berhasil dan membahagiakan kedua orangtua mereka.
Terus terang saya tidak mau menyoroti masalah 76 tahun Sumpah Pemuda, karena bagi saya momen itu menjadi semacam topeng yang mengcover semua momen-momen lain di masa kini atau masa sebelumnya. Doktrinasi yang cukup tinggi terasa di masa sekolah dulu dengan mengagungkan Sumpah Pemuda sebagai titik tolak persatuan. Bagi saya setiap masa, era, dekade atau apalah disebut pasti punya saat yang dinilai historis. Bagaimana dengan Angkatan 66 dimana mereka mengklaim bahwa itu pergerakan mahasiswa menghentikan Orde Lama atau Angkatan 97-98 dengan 12 Mei-nya yang mengklaim bahwa mereka telah merontokkan tirani Orde Baru....atau nanti ketika Angkatan XX berkata memperbaharui Orde Reformasi ??? Apakah yang membedakan momen Sumpah Pemuda dengan momen setelahnya ??? Kenapa tidak ada Sumpah Pemuda jilid II dimana ketika itu semua mahasiswa di seluruh Nusantara ini bersatu tanpa unsur SARA bahkan sampai mengorbankan nyawa ???

Pertanyaan berikutnya adalah sekarang apakah peran pemuda atau jika mau lebih tajam visi pemuda ke depan ? Apakah pemuda harus selalu membuat momen penting seperti Sumpah Pemuda atau 12 Mei 1998 ? ataukah berdemo secara brutal demi eksistensinya ? Sesungguhnya pertanyaan ini yang menjadi inti dari kegelisahan saya selama ini dalam menatap kaum muda di negeri ini.

Faktanya tampilan kaum muda di negara kita adalah hampir mendekati replika talkshow diatas. Coba tengok saja contoh sederhana, yang namanya Indonesia untuk memenangkan Olimpiade Ilmu Pengetahuan, seperti Fisika, Matematika, Kimia, Biologi, dll sekarang ini adalah hal yang biasa. Minimal satu medali dapat diraih putra-putri Indonesia, hebatnya yang terakhir di bidang Astronomi yang notabene tidak ada dalam mata pelajaran di sekolah. Itu prestasi di tingkat SMU ke bawah lho....lalu di tingkat Perguruan Tinggi ke atas ??? hilangkah ??? Paling-paling yang saya dengar hanya Choir kita yang cukup mumpuni...selain itu MAHA siswa kita kerap dituding bisanya hanya demo dan tawuran atau mungkin dugem.

Kenapa bisa begitu yah...? Saya juga bingung.... Jawabannya mungkin ada pada beberapa remaja yang berulang tahun di usia 17 tahun. Apa kata mereka ? Sederhana sekali...saya sudah bisa punya SIM dan KTP. Dengan kata lain mereka bilang saya sudah dewasa...bisa kemana saja !!! Saya menemukan sedikit terang disini. Logikanya ketika masih di tingkat SMU kebawah peranan orangtua dan guru masih terasa, sehingga remaja mempunyai ruang lingkup yang teramat sempit selain belajar. Yah...that it..BELAJAR. Ketika dia lepas dari masa remaja, diukur dari usia (17 tahun) atau memasuki masa kuliah maka tembok-temboknya mulai runtuh. Tidak ada lagi orangtua...tidak ada lagi guru....everything free...man
 
Bagi saya disinilah titik dimana orang mulai mencari jati diri. Interval antara 17 - 24 tahun (batas atas agak relatif) adalah masa lepas. Disini istilah dunia muda sering mengemuka..."kapan lagi mumpung masih muda....!!!". Jadi mulailah masa produktif yang dipaksakan semasa SMU pelan-pelan memudar walaupun tidak seluruhnya untuk beralih menjadi ekspresi kebebasan. Sampai dimana masa akan memaksa mereka kembali untuk menjadi produktif (biasanya dipengaruhi aspek ekonomi, usia dan lingkungan). Makanya jangan heran jika pada interval itu pemuda jarang mempunyai visi, tapi coba tanyalah soal ekspresi.
 
Nah...ekspresi itulah bagi saya yang sedikit banyak melatarbelakangi momen-momen penting diatas, mulai dari Sumpah Pemuda hingga Peristiwa 12 Mei. Kok begitu...??? Dari pengalaman hanya segelintir dari sekian banyak orang ditanya mengapa harus menjatuhkan Orde Baru ??? Jawabannya kebanyakan hanya berupa ekspresi....ekspresi idealisme atau ekspresi kebebasan. Kalaupun ada yang segelintir itu biasanya menjadi sasaran target operasi aparat :). Mereka umumnya visioner yang radikal dengan idealisme (baca polos) tingkat tinggi. Untuk menciptakan hal itu sama seperti snow ball atau bola salju anda cukup menggulirkan sedikit saja salju dari puncak gunung...maka yang lain akan ikut....bukankah begitu ???

Hal ini berbeda dengan kaum tua (tidak menyebut dewasa karena dewasa itu pilihan), ekspresi mereka hampir memudar dibayar dengan realistis kehidupan. Coba tengok politikus kita...sekarang ngomong A, bisa jadi besok bilang Z. Tergantung keadaan saja...tapi sebenarnya ini saya menyebutnya dengan visi masa depan (untuk pribadi tentunya).

Dari satu sisi saya melihat hal-hal diatas tadi....namun mencuplik pernyataan bahwa tidak di semua daerah sama, contohnya di desanya dia kaum mudanya produktif. Jawaban saya itu benar, tapi kita harus melihat dalam situasi kondisinya. Di daerah benar hal itu terjadi bahkan sejak usia remaja mereka sudah mulai berkarya (bekerja). Ini banyak dilatarbelakangi masalah kultur keluarga atau budaya setempat dan ekonomi. Sebagai contoh juragan beras di desa yang memiliki PO misalnya akan "memaksa anaknya" untuk meneruskan PO-nya tersebut atau keluarga buruh tani di desa terpaksa mengerahkan keluarganya untuk menggarap sebidang tanah. Kalau anda di kota besar Jakarta, Bandung, Surabaya dan Makassar anda tidak akan kesulitan menemukan yang namanya pengamen. Lagi-lagi ada faktor-faktor lain yang harus anda lirik bukan ???

So...bagaimana ??? Supaya referensi lebih banyak mari kita melirik ke dunia barat. Di dunia yang sering disebut kapitalis itulah sedikit petunjuk itu berada. Disana setelah high school, kaum mudanya sudah diwajibkan mandiri. Tidak terlepas keluarganya sudah mapan atau belum. It must be !!! Kaum mudanya dipaksa bukan dengan orangtua atau guru tapi dengan keadaan. Kalau anda perhatikan di film-film bertemakan anak muda seperti Madison, Heartbreak High, Dawson Creek atau Beverly Hills terdapat benang merah disana. Ada proses...ya proses mematangkan visi di setiap anak muda. Jadi di masa itu visi dan ekspresi anak berjalan bersamaan, di satu sisi anak muda ingin bebas namun disisi lain mereka harus bertanggungjawab akan hidupnya. Makanya jangan heran jika di film tersebut seringkali terjadi bentrokan antara orangtua dengan anaknya. Namun lihatlah akibatnya di interval yang sama dengan di Indonesia yaitu 17-24 tahun mereka dengan mantap sudah siap menantang hidup. Bahkan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan keadaan antara di daerah dan kota seperti Indonesia tidak berlaku di sana. Film Heartbreak High merupakan film dengan latar belakang anak-anak berandalan di Australia sedangkan Beverly Hills diwarnai kehidupan orang kaya di negeri Paman Sam atau Madison yang berada di kehidupan kelompok sosial menengah.

Nah...kalo generasi tua banyak yang bilang tayangan dari dunia barat membawa dampak buruk...well...kita harus melihat dari sudut pandang mana dulu. Di satu sisi benar bahwa banyak dampak buruk dari sana. Namun di sisi lain saya cukup mengkritisi tingkah laku penghuni negeri ini sendiri. Maaf kalau agak kasar...menurut saya bangsa ini tidak mempunyai cukup saringan untuk menerima pengaruh luar. Terus terang bagi di luar negeri Indonesia adalah pasar yang paling potensial, tahu kenapa ? Bukan hanya karena penduduknya banyak tapi ini karena konsumtif tingkat tinggi dan trend maniak yang kebablasan. Jadi jelaslah kalau trend apapun yang berlaku di luar sana akan segera hadir dalam sekejap di negeri ini. Sehingga bagi saya benar apa yang dilakukan Ali Sadikin dengan melegalkan antara WTS atau Porkas (saya lupa) atau Gus Dur yang mencabut Tap MPR soal PKI. Prinsip beliau-beliau ini sangat praktis...Mereka tidak mau mendiskriminasi orang yang buruk untuk selalu menjadi yang paling menderita, tapi memberikan batas-batas dan hak setiap manusia. Jadi seakan-akan mereka bilang ini lho yang engga baik. Wong kalo jelas sudah engga cocok atau salah mbok ya jangan diikutin...Kesimpulannya apa ??? Lagi-lagi maafkan saya bangsa kita mudah dipengaruhi oleh trend. Jika udah jatuh korban gampang saja...abis gara-gara tayangan TV atau korban internet !!! Maka sekali-kali bertanyalah kepada diri kita.

Akhirnya kembali ke pengalaman saya sendiri dimana sering melihat ketiadaan visi atau tujuan dalam diri anak muda Indonesia. Ketika mereka ditanya apa itu sekolah ? Jawabannya sederhana karena disuruh orangtua atau melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Atau kenapa harus kuliah tidak kursus saja ? Mereka pun menjawab untuk mendapatkan gelar atau peluangnya lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan. Ketika mereka terpaksa bekerja mulai usia remaja hingga pemuda sebagai pengamen atau pemulung, mereka hanya menjawab harus mempertahankan hidup tanpa ada yang menamkan mereka bagaimana keluar dari situasi itu.

Dan ketika mereka telah mulai masuk dunia kerja selepas Perguruan Tinggi...jawabannya pun klise mengumpulkan uang untuk menikmati hidup.

Mungkin saya terlalu naif dalam menulis semua ini. Mungkin saja begitu tapi yang saya rasakan alangkah sayangnya jika kita melewati setiap masa hidup kita dengan keterpaksaan atau alasan memang seperti itulah masa muda atau bahkan hanya untuk senang-senang tanpa tahu apa yang telah saya perbuat di masa-masa hidup mulai kanak-kanak, remaja, pemuda, dan tua ada maknanya atau tidak. Saya kerap kali merasa iri kepada anak-anak muda yang memiliki visi hidup yang jelas, terlepas apakah profesi apa yang mereka tekuni. Ada teman perempuan yang melayani jauh di Kalimantan sana walaupun keluarga kurang menyetujuinya, ada yang masuk seminari di malam hari dengan sebelumnya bekerja pagi hari untuk membiayai kuliah tersebut, ada yang rela pontang-panting mengejar beasiswa di luar negeri yang tidak jelas dengan mengorbankan pekerjaannya serta seorang yang dengan pasti masuk sekolah theologia tanpa kepastian membayar dengan apa. Walaupun saya tidak bertanya kepada mereka apa yang menyebabkan hal tersebut, saya tahu ada visi sejati di dalam diri mereka...
Diperuntukkan buat anak-anak muda yang teguh berdiri diatas visi hidup mereka.
 
with respect,
 
:> ANTz

read more...

Saturday, October 23, 2010

Dimana Pialaku ?

8:58 AM 7/5/2009, ANTz wrote :

Ketika itu aku sedang berlari
Berlari... berlari...
dan terus berlari...
Nun jauh disana,
aku melihat sebuah piala
Aku tersenyum, yah... piala itu
Dan aku terus berlari...
Hingga mendapatkannya


Braaaak... Bummmm...
Aku mendapati diriku terpelanting
jatuh hingga terduduk
Aku melihat sekelilingku
Tidak ada... tidak ada... sesuatupun
Sejenak aku terdiam
Akh... mungkin hanya khayalan
Aku melihat pialaku,
bersinar diguyur mentari
Aku kembali bangkit
Duuug... terjatuh
Aku mencoba bangun
Braaaak... kembali jatuh
Dan untuk kesekian kalinya
Bummmm...
Aku terhempas...
terhempas hingga memeluk bumi

Mentari terus berputar
Dan bulan pun datang kembali
Kedua penguasa datang silih berganti
Aku mendapati diriku masih memeluk bumi

Beragam manusia melewatiku
menuju piala mereka masing-masing
Riang raut muka terpancar erat
kaum muda...
kaum paruh baya...
jompo manula...
teruna-teruna...
Bercengkrama, memimpikan asa

Aku masih terbenam disana
gundah gulana memecah langit
merutuki ketidaknyanaan
keluh kesah menggapai Penguasa

Hingga mahluk-mahluk itu datang
mencandaiku, mengajakku bermain...
Di tengah lelapku
aku bermain,
menikmati kembali masa kecilku
Di tengah gundahku
aku bermimpi,
memimpikan bintang di langit
Di mana pialaku ?
Aku tidak melihatnya lagi
Aku tidak peduli lagi

Kami terus bermain
mencari hal-hal baru
berburu petualangan lain
menikmati kegembiraan

Akh... aku melupakan segalanya
Aku terseret dalam kepolosan
Aku terhanyut dalam keluguan

Seakan hari tidak pernah habis

Sampai di satu masa
Aku mendapati diriku
Berdiri...
Berjalan...
Tertatih...

Akh... piala itu kembali terlihat
Beragam manusia berlaku sama
Terhipnotis oleh keberadaan
kedagingan kembali merasuk
Aku ingin berlari...
Berlari... yah.. berlari...
TIDAK, aku tidak ingin berlari lagi
Aku ingin terbang...
benar... terbang
seperti rajawali
perkasa menantang langit

Aku melupakan segalanya
piala itu kembali membiusku
melayang mengawang-awang
melupakan apa yang ada dalam tubuhku
ketidaksempurnaan yang absolut

Aku lupa
bahwa aku bisa terjatuh
Aku lupa
bahwa aku bisa terjerembab
Aku lupa
bahwa aku bisa terkulai

Aku lupa dari semuannya itu
bahwa di dalam kelemahanku
kuasa-Nya menjadi sempurna

Piala itu tetap menggodaku
mengajarku menyadari segala sesuatu
ketenangan adalah senjataku
kesabaran adalah perisaiku
kegembiraan adalah obatku
kelemahan adalah kekuatanku

Saat aku perkasa, aku akan terbang
Saat aku kuat, aku akan berlari
Saat aku lemah, aku akan berjalan
Saat aku sakit, aku akan berdiam

Kemanakah aku dapat pergi
menjauhi sang Penguasa
Jika aku mendaki ke langit,
Engkau ada di sana
Jika aku terbang dengan sayap fajar,
Engkau akan menuntun aku,
Jika aku membuat kediaman di ujung laut,
Engkau memegang aku.

with respect,

:> ANTz

read more...

Wednesday, October 13, 2010

Membentuk Generasi Emas

10:29 AM 4/1/2009, ANTz wrote :

Wuaah.... hari ini gue bangun telat, 9.30 gue baru buka deh. Engga apa-apa  deh lagian anak-anak juga masih pada sekolah. Setelah nyampe gue masih berbengong ria, karena otak blom nyambung. Ternyata sebagian anak-anak engga sekolah, ada try out untuk kelas 6. Ya uwes-lah... gue dapet duit. Berbeda dengan tempat lain, gue buka jam diatas jam 9.00 kecuali hari libur. Alasannya menghindari anak-anak yang cabut sekolah trus singgah di tempat gue. Namun setahun terakhir, gue perhatikan mereka malah keseringan "libur". Ada aja alasannya : ada yang gurunya rapat, kondangan dan lain-lain. Awalnya gue ga percaya, namun setelah diperhatikan emang mereka engga bohong. Misalnya seminggu yang lalu, kalo engga salah hari Kamis, 26 Maret 2009 itu bertepatan tanggal merah. Berdasarkan pengalaman klo udah begitu biasanya hari Jumat pasti libur karena hari Kejepit Nasional dan gue pun datang sekitar jam 8.00. Namun dugaan gue salah anak-anak masuk sekolah. Bagus juga kalo begitu taat aturan. And then besok gue akan buka kembali seperti biasa. Tapi besoknya gue malah bengong, gue malah disamperin ke rumah sama anak-anak sekitar jam 8.00. Ketika sampe tempat, anak-anak itu sebenarnya masuk sekolah cuman ya itu, beragam jawaban keluar dari mulut mereka. Ada yang bilang disekolahnya tidak ada pelajaran trus disuruh pulang cepat, ada yang pelajarannya cuman satu dan akhirnya ada yang jujur bilang males sekolah, percuma engga ada gurunya tutur mereka. Yang gue bingung dengan sekolah yang beragam dan alasan yang berbeda kok hasilnya sama mereka umumnya tidak masuk sekolah.

Seperti juga hari ini, tempat udah penuh. Biasanya sih sekitar jam 11-an abis pulang sekolah. Ternyata sekolah dipake untuk try out kelas 6, jadinya yah engga masuk sekolah. Wuaah... dalam sebulan udah berapa kali anak-anak ini mendapat "tanggal merah". Nah... kebetulan hari ini ada seorang ibu muda yang menemani anak asuhnya. Engga berapa lama kami mengobrol, awalnya dia cerita bahwa anak kandungnya yang sekolah di salah satu SDN di Depok akhir-akhir ini turun nilai raportnya, sulit katanya sekarang untuk anaknya belajar dengan baik di sekolah. Bahkan anaknya nyeletuk bahwa ada gurunya yang tidak memperbolahnya bertanya bila sedang bingung. Wuaalah... opo tenan iki. Yang gue tau selama gue usaha dan sebagian besar berinteraksi dengan anak-anak mereka jarang sekali bohong (sebagian besar usianya dibawah 6 tahun). Terus diceritakan bahwa memang untuk sekarang tidak ada lagi uang sekolah (karena ada dana BOS), namun diperhatikan sejak tidak membayar uang sekolah itu pola belajar, terutama anaknya berubah atau mungkinkah pola belajar mengajar di sekolah ? Si ibu muda ini pun berujar kalo begitu lebih baik saya membayar uang sekolah lagi, biar anak saya bisa belajar dengan lebih baik. Belum lagi beban pelajaran yang dianggap berat untuk anak-anak, terutama pelajaran seperti Komputer atau Bahasa Inggris.

Benar atau tidak, dari obrolan kami menyiratkan benang merah bahwa ada korelasi antara proses belajar mengajar dengan bebas uang sekolah (baca dana BOS). Apakah memang benar dengan adanya dana itu mengurangi kualitas pendidikan ? Gue engga tahu. Hanya saja dari sini gue memperhatikan secara sederhana dari segi kuantitas saja, dalam sebulan mereka sudah kerap libur blom lagi seminggu kedepan akan ada lagi tanggal merah. Sedangkan dari sisi kualitas, gue menelaah bahwa terdapat pola bahwa sekolah (dalam hal ini yang negeri) berusaha menjalankan kurikulum nasional sebaik-baiknya dengan dana yang ada (baca dana BOS) tanpa memperhatikan aspek psikologis anak. Lha siapa yang mo perhatikan psikis anak satu kelas wong gaji aja kurang ? Akhirnya gue memahami bahwa ada kesenjangan antara target kurikulum nasional (beban pelajaran) dengan dana operasional yang tersedia. Korbannya yang gue temui ya itu anak-anak, trus orangtua dan akhirnya guru pun terseret dalam masalah ini. Tapi layakkah mereka dijatuhi batu panas diatas kepalanya ? Jelas tidak.

Tidak ada maksud untuk menggurui para ahli pembuat kurikulum di negeri ini, mungkin benar kurikulum pendidikan nasional sudah baik bahkan teramat baik. Tokh sudah tersedianya Dana Operasional Sekolah, sudah ada Ujian Akhir Nasional yang menjadi standar kelaikan pelajar negeri ini atau seribu indikator lainnya. Bapak atau Ibu bisa sebutkan, namun kami atau paling tidak gue melihat muka suram anak-anak ini. Bukankan sekolah dapat menjadi tempat yang menyenangkan bagi pertumbuhan diri anak bukan hanya sekedar untuk pendidikan formal belaka. Ataukah mereka akan belajar langsung dari lingkungan tanpa ada yang mendampingi. Jadi jangan kaget atau seolah-olah kaget jika di tingkat SMP atau SMU mereka sudah akan membuat genk-genk hanya untuk eksistensi belaka. Eksistensi yang diabaikan di sekolah dan di rumah, namun tokh muncul juga di televisi. :)

Emang gue tidak mempunyai ilmu psikologi, walau begitu gue belajar bahwa paling tidak sampai usia 6 tahun adalah masa penting dalam membentuk kepribadian seseorang. Karena selepas usia itu anak-anak akan berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas dan kompleks, mereka akan mempunyai keingintahuan yang meluap-luap. Jadi kalo masih mau liat negeri ini yah...paling engga masih dianggap negara lain, bentuklah Generasi Emas. Sederhananya bukankah Anak Harus Lebih Baik Dari Bapaknya ?

with respect,

:> ANTz

read more...

Tuesday, October 12, 2010

Itulah Hidup

9:18 AM 4/19/2009, ANTz wrote :

Pagi ini, gue duduk di depan rumah seorang teman di daerah Pondok Labu. Orangtua teman meninggal Sabtu malam karena sakit tumor ganas. Meninggal merupakan bagian dari siklus kehidupan manusia, selain kelahiran dan pernikahan. Akan ada tawa dan disana pula tangis mengiringinya, bagai 2 sisi mata uang. 

Seminggu yang lalu, tepatnya hari Senin & Selasa, gue sibuk membenahi kamar-kamar yang ada di rumah orangtua. Banyak barang-barang lama yang gue temui, membangkitkan memori masa lalu. Salah satunya buku Chicken Soup for Soul edisi. Wuaaah... asik juga buat sumber inspirasi. Kalau tidak salah, hari Jumat-nya gue baru punya waktu luang untuk mulai membaca. Gue mendapati kesan yang hampir serupa dari berbagai cerita didalamnya. Mulai dari anak terkena Leukimia, veteran Vietnam dengan kruk di kakinya yang menjadi montir mobil, ibu yang menderita kanker payudara, ayah yang kehilangan anak yang masih muda karena kecelakaan, kakek tua penderita jantung, supir taksi yang profesional sampai seorang gadis muda penderita Paranoid Schizofrenia. Dengan ekspresi yang beragam, semua penulis atau pelaku menunjukkan pesan yang sama. Bagaimana manusia menyikapi hidupnya dan memberi arti seberapa pun pendeknya hidup mereka.

Masih dalam minggu ini, gue kebetulan mendengarkan lagu-lagu karya Giving My Best dalam album Stand Out dan Sidney Mohede dengan albumnya Better Days dan Ada Langit Biru. Dari sekian lagu dalam ketiga album tersebut, ada 3 lagu yang akhirnya sering gue dengerin, bahkan saat gue menulis artikel ini. I love it. Lagu itu berjudul Sampai Batas Waktu (Giving My Best), Batas Akhir dan Masih Ada Langit Biru (Sidney Mohede). Padahal awalnya gue agak engga suka karena dari judul dan liriknya mengandung hal-hal mengenai kematian, kesusahan ataupun ketakutan. Hal-hal yang selama 5 tahun terus menghantui diri gue dan menghilangkan semangat, hanya untuk sekedar hidup. Namun hati gue terlanjur menyukainya, mau apa lagi.

...tatkala gelap mencekam hidupku
ku rasa aman dalam-MU
kubawa hatiku
ombak yg menderu
tak membuat galau hatiku
kutahu, kuselalu mengandalkan-MU...


Yaah... selama 5 tahun, gue dihadapkan pada kondisi yang sama seperti pelaku dalam kisah di buku Chicken Soup for Soul ataupun seperti rangkaian lirik dalam ketiga lagu diatas. Seperti mereka, awalnya gue merasa hidup telah habis di usia 25 tahun. Cita-cita & mimpi telah raib seperti debu ditiup hembusan angin, hilang tak berbekas. Dokter & psikolog melakukan beragam diagnosa, kerabat datang silih berganti memberi semangat, segala macam obat dari yang tradisional sampai non tradisional masuk ke perut sampai buku-buku pembangkit semangat didatangkan....tokh gue tidak beranjak dari sedotan lumpur hidup. Alih-alih bangkit malah gue semakin membangun tembok setinggi langit, memutuskan hubungan dengan dunia di sekitar termasuk keluarga sendiri. Hanya untuk menunjukkan konklusi diri gue sendiri bahwa : "I am finished".

Namun layaknya kisah-kisah dalam Chicken Soup for Soul, gue mengalami transformasi yang serupa. Dan itu dimulai dari hal yang sangat sederhana, anak-anak. Selama 2 tahun kehilangan kontrol akan diri gue, di tahun ketiga gue mencoba memulai sebuah usaha yang dekat dengan anak-anak. Tujuannya sederhana sekedar mengisi waktu ditengah keputus-asaan. Amazing....tiga tahun kemudian atau 5 tahun dari titik dimana gue sakit, berbagai jenis hasil dapat dipetik. Dari segi investasi saja, modal dalam bentuk barang bukannya susut malah nilai jualnya naik dan pendapatan yang disimpan dalam bentuk deposito menghasilkan nilai yang lumayan ketika suku bunga naik. Dari 1 tempat yang mulanya iseng-iseng sempat menjadi 2 tempat walau akhirnya yang lama tutup karena kendala pegawai. Dan yang paling penting, diri gue mengalami perubahan yang luar biasa. Gue menjadi sosok yang sangat menghargai uang sampai nilai yang terkecil :), memahami bagaimana menjalankan usaha hingga akhirnya sangat menghargai orang yang berani berusaha secara mandiri, menjadi sabar menghadapi beraneka karakter orang (pengaruh anak-anak neeh), dan yang terpenting mulai ada mimpi-mimpi yang terselip dalam diri gue :), sesuatu yang hilang selama 5 tahun ini.

Ketika membaca kisah-kisah dalam Chicken Soup for Soul, mendengarkan lagu-lagu dari Giving My Best & Sidney Mohede serta mengenang masa-masa suram dalam hidup gue, untuk kemudian mengarahkannya kepada momen dimana gue berada dalam suasana berkabung saat ini... seperti ada gong yang dipukul di dekat telinga... keras sekali. "Itulah Hidup" begitu suaranya terdengar.

Yah... bagaikan pisau bermata dua "Itulah Hidup" membuat diri gue amat tenang sekaligus muram. Tenang karena setelah mengalami saat-saat menyakitkan dalam hidup, gue kini mempunyai visi dan mimpi yang baru. Visi dan mimpi yang sangat sederhana, dimana gue mulai menikmati hidup tanpa harus ngoyo (bahasa Jawa) mencapainya. Mimpi yang akan terus bergulir walaupun gue telah Mencapai Batas Waktu. Visi yang hanya berkata : "Pengaruhi sekitarmu, buat lebih baik". :) Sekarang, gue selalu mencari jenis usaha yang berdasarkan visi ini. Selama 3 tahun gue telah melaluinya dari hal yang kecil yaitu sekitar lingkungan rumah. Dan mulai bulan April 2009, gue memulainya bersama abang gue dalam konteks yang lebih besar. Tidak tahu berhasil atau tidak, tapi sebuah visi haruslah selalu bersama mimpi karena jika itu gagal anggaplah sebagai mimpi belaka, alias tidak stres :)

"Itulah Hidup" mendatangkan sisi muram dalam diri gue. Ketika hari ini gue berbincang-bincang dengan salah satu pelayat, keluar pernyataan tersebut dari bibirnya. "Itulah hidup, hari ini kita sehat... besok bisa meninggal. Ada yang sakit bertahun-tahun tokh tetap tidak meninggal !!!". Sedih rasanya mendengarkan pernyataan yang terkesan datar. Bukannya apa-apa, kalau setiap orang sudah tahu begitulah kenyataan hidup, pertanyaan-nya adalah apa yang telah dilakukan selama hidupmu ???

Apa yang dibenak orang yang ketika memperkaya diri sendiri dengan cara yang tidak benar atau melakukan janji-janji kosong yang tokh akhirnya menyakiti orang lain hanya untuk kekuasaan atau pengaruh. Hampir semua orang  mengharapkan atau mengejar sesuatu dalam hidupnya apakah itu kekuasaan, ketenaran, harta, kepintaran atau eksistensi diri lainnya. Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiran gue : "Apakah semuanya itu akan selamanya melekat dalam diri kita ?". Ketika dari dalam rumah duka tiba-tiba terdengar tangisan keras yang bersahutan... gue sudah menemukan jawabannya. Tidak ada yang kekal. Hanya kenangan yang ditinggalkan entah sampai berapa lama.

Yah... hidup ternyata sederhana apapun kondisinya. Setiap manusia menjalankan rutinitas yang dipilihnya, ketika mereka jenuh, mudah saja untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan hatinya. Dan siklus hidup terus berputar dari mulai membuka mata hingga akhirnya menutup mata. Dimulai dari tertawa senang hingga akhirnya menangis pilu atau seharusnya dimulai dari tangisan si kecil hingga tawa sang tua meninggalkan sakit yang dideritanya...

Gue hanya terpekur, ketika mendung mulai bergayut diatas rumah duka dan pelayat mulai beranjak dari tempat duduknya. Gue tetap duduk sambil melihat ke langit dan meneruskan menulis, entah bagaimana gue percaya hujan baru akan turun ketika gue pulang ke rumah.

...sampai batas akhir nafasku
dan sampai lenyap detak jantungku
kan kuserahkan seluruh hidupku
dan b'ri yang terbaik bagi-MU...


with respect,

:> ANTz

read more...

Tuesday, October 05, 2010

Siapa Rekan Usaha Anda ?

10:12 AM 3/9/2009, ANTz wrote :

Kadang-kadang agak menggelikan jika mencermati hal ini. Setelah mengalami sakit selama 2 tahun, gue mencoba memulai usaha. Awalnya sekadar untuk membuat diri sendiri mempunyai kegiatan, hanya itu. Di keluarga, gue adalah anak terakhir dari 3 bersaudara yang kesemuanya adalah laki-laki. Dengan modal dari abang tertua, gue mulai mencoba menjalani usaha tersebut. Dengan alasan tersebut di atas, tidak ada perjanjian tertulis tentang uang, terutama pembagian keuntungan. Hanya dengan Gentleman Agreement antara saudara, kami mendasari usaha tersebut. Perjanjiannya sendiri agak sederhana, bahwa semua uang yang dihasilkan tidak boleh ada yang diambil untuk kepentingan pribadi. Sampai saat ini belum ada istilah pembagian saham atau dividen apapun. Bahkan gue sendiri tidak mengambil gaji dari hasil tersebut. Aneh memang, namun kondisi dimana gue masih tinggal bersama orangtua dan belum berkeluarga dapat mewujudkan hal tersebut. Mengenai pengeluaran pribadi lain seperti komunikasi dan refreshing, bisa gue minimalisasi karena kebetulan gue tidak memanfaatkan HP dan hampir tidak pernah keluyuran yang sifatnya wasting money. Sedangkan abang gue, mempunyai pekerjaan tetap sehingga dia pun tidak mengambil uang dari pemasukan yang ada. Pemasukan hanya dikeluarkan untuk kepentingan usaha, seperti biaya sewa tempat, listrik, perbaikan dan belakangan untuk membayar seorang pegawai.

Untuk pembagian pun sederhana, saya yang mengelola keseharian dan apabila memerlukan barang, setiap akhir pekan kami mencarinya bersama-sama. Hampir 3 tahun, kami mengelola usaha kecil ini. Selama kurun waktu itu, selain pemasukan dari segi uang, juga dapat menambah dengan beberapa unit alat. Selain itu sempat membuka tempat baru, walaupun tidak lama karena kendala pegawai.

Baru-baru ini abang gue yang lain, menawarkan merintis usaha. Kondisi dia saat ini, sama seperti abang yang tertua : sudah mempunyai pekerjaan tetap. Jadi gue yang diharapkan mengelola usaha yang baru ini. Gue kembali menyanggupinya. Permasalahan kecil muncul ketika gue menanyakan soal dana investasi. Tidak seperti yang pertama dimana gue tinggal mengelola saja dengan dana yang sudah tersedia. Dengan berterus terang gue menjelaskan bahwa gue tidak mempunyai sepeser pun uang dan tidak mempunyai pemasukan apapun. Memang ada, namun itu adalah semacam dana abadi yang tidak bisa diganggu gugat. Gue tidak akan mengambil bagian karena sudah menjadi bagian dari Gentleman Agreement yang tidak tertulis. Dan dana itu akan diproyeksikan agar dapat menghasilkan sendiri tanpa harus dikelola, dalam artian investasi mandiri.

Ketika abang gue ini bertanya dalam bentuk apa gue akan menerima keuntungan, gue hanya menawarkan keuntungan jangka panjang sama seperti usaha yang telah gue rintis. Hitungan gue amat sederhana, mengapa tidak menekan pengeluaran yang bersifat mubazir, jika dalam kurun waktu 3-5 tahun, beberapa usaha yang dirintis telah berkembang menjadi pohon-pohon yang menghasilkan buah ? Selain itu sesungguhnya secara tidak langsung menyatakan bahwa gue ingin mempunyai sebuah usaha keluarga yang kuat.

Pagi ini, secara jernih akhirnya gue belajar bahwa dalam satu keluarga yang sedarah sekalipun tidak menjamin kesamaan karakter dalam menjalani sebuah usaha. Dan dari kesimpulan itu gue mencoba memilahkan karakter apa saja yang menjadi rekan usaha kita.

1. Investor Character
Abang gue yang tertua mempunyai karakter tersebut. Selama bekerja sama dengan dia, gue mengidentifikasi ciri khas yang melekat pada dirinya yaitu seorang investor kebanyakan meluangkan banyak dananya dibandingkan waktunya. Selama usaha yang dijalankan masih mendatangkan keuntungan dari kacamatanya maka pengelola tidak akan banyak berinteraksi dengannya. Seorang investor sejati selain siap mengambil resiko dalam level yang tinggi juga biasanya mempunyai banyak stok rencana investasi (yang diwujudkan dalam jenis usaha). Walaupun dalam aktualnya, dari sekian banyak rencana-rencana tersebut paling hanya 1-
2 saja yang mempunyai endurance kesuksesan yang lumayan panjang. Tokh, kalaupun ada yang gagal atau usaha telah mencapai Break Event POint maka sang investor telah menyiapkan jenis investasi atau usaha baru sesuai kondisi yang dikuasainya.

2. Dominant Character
Abang gue berikutnya merepresentasikan karakter ini. Walaupun baru beberap bulan merencanakan usaha, gue mendapati bahwa ciri khas yang menonjol adalah kemauan yang keras untuk meluangkan waktunya mengurusi seluruh persiapan usaha, mulai dari konsep hingga running process. Rekan usaha seperti ini akan terlebih dahulu menghitung secara cermat peluang usaha yang ada dari dua hal pemasukan dan pengeluaran sebelum melakukan sebuah usaha. Resiko sekecil apapun akan sangat diperhitungkan agar kerugian yang dicapai tidak terlalu besar. Aspek spekulasi akan berada di titik yang rendah pada karakter yang seperti ini. Ke depan, gue melihat karakter yang seperti akan setia dalam satu jenis usaha dan melakukan ekspansi masih dalam jenis usaha yang sama (turunannya), tanpa berencana melakukan diversifikasi.

3. Passive Character
Karakter ini ditemukan dalam diri teman-teman gue. Mungkin karena posisi gue yang sedikit berpengalaman dalam merintis usaha menyebabkan karakter ini jelas terlihat. Teman-teman secara tidak langsung menempatkan diri mereka sendiri dalam posisi yang pasif. Walau usaha yang dirintis hanya dengan modal mengeksploitasi kemampuan atau bakat mereka namun pengalaman menempatkannya dalam posisi tersebut. Minimnya upaya dalam dalam hal visi, dana dan pengalaman menjadi kendala menjalin kerjasama dalam sebuah usaha. Sisi baik yang diperoleh adalah tidak ada intervensi berlebihan dalam meletakkan visi usaha sehingga leluasa mengatur porsi tugas yang menjadi tanggungjawab masing-masing.

4. Balanced Character
Karakter ini sesungguhnya menjadi tipe ideal kerjasama dalam sebuah usaha. Gue sendiri sampai sekarang kesulitan menemukan rekan usaha seperti ini. Faktornya sederhana yaitu kesamaan visi. Kesamaan visi akan mengejawantahkan dirinya menjadi beberapa titik penting dalam usaha, seperti jenis usaha, sumber dana, ketersediaan waktu, metode usaha dan lain sebagainya. Di setiap titik ini nantinya akan tercipta, apa yang gue sebut sebagai balanced effort. Sederhananya ada upaya alami (tanggung jawab) dari setiap orang yang terlibat dalam usaha tersebut alias bahasa antiknya tanggung renteng. Jenis usaha yang digeluti biasanya atas dasar kemampuan atau hobby yang ditekuni.

Anehnya dari sekian karakter yang telah dicoba untuk diidentifikasi, ada keraguan dimana sesungguhnya karakter gue berada. Mungkin, beberapa kondisi yang berbeda menyebabkan gue memerankan karakter yang berbeda pula. Atau bisa saja dicantumkan sebagai adaptive / opportunist character :). Namun, secara pribadi gue tidak merekomendasikan karakter seperti itu karena terlalu sulit untuk mengenali dimana kelebihan dan kekurangannya yang berakibat kita tidak tahu apa yang layak diperoleh dari rekan usaha seperti itu. Penting atau tidaknya tulisan dikembalikan kepada yang pembaca. Tidak ada satu pun teori yang gue ambil dari buku teks manapun. Pengalaman yang dialami, itu yang gue tulis. Tidak lebih.

with respect,

:> ANTz

read more...

 

blog RIGHT

This blog powered by:


Professional template designed by Rohman Abdul Manap
Banner header image and blog modified by antha.ginting

Creative Commons License
Based on a work at karput.blogspot.com,
all contents on this site are LICENSED under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License.

Please email to for copy
and distribute for commercial or non-commercial uses.

and also PROTECTED under:
MyFreeCopyright.com Registered & Protected
protected by Copyscape Online Plagiarism Detector
for detail see Disclaimer.

Thank you for visiting my blog, see ya..

my FRIENDS